JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Perayaan Ruwah Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, berlangsung meriah dengan digelarnya Festival Gunungan atau Kirab Budaya.
Tradisi ruwah desa ini menjadi yang perdana dilaksanakan di Desa Banjaragung dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi upaya melestarikan tradisi warisan leluhur, tetapi juga dimaknai sebagai ajang mempererat tali silaturahmi serta menumbuhkan semangat gotong royong antar warga Desa Banjaragung.
Dengan konsep kekinian, festival ini menyuguhkan beragam pertunjukan seni dan budaya lokal. Salah satu puncak acara adalah kirab gunungan yang menampilkan hasil bumi desa serta produk UMKM lokal.
Kirab tersebut diikuti enam gunungan dari enam dusun, yakni Dusun Unggahan, Dusun Gedang Klutuk, Dusun Brongkol, Dusun Genengan, Dusun Jetis, dan Dusun Gatoel.
Baca Juga: Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Tingkatkan Ekonomi Warga dengan Jalan Baru
Rangkaian acara Ruwah Desa Banjaragung digelar selama dua hari. Pada Jumat malam (7/2) kegiatan diawali dengan Banjaragung Bersholawat sebagai bentuk doa dan ungkapan rasa syukur. Kemudian puncak perayaan berlangsung pada Sabtu, 8 Januari 2026.
Kirab gunungan dimulai sekitar pukul 13.30 WIB yang diawali dengan pembukaan oleh Kepala Desa Banjaragung.
Kirab berlangsung meriah dan disambut antusias warga. Meski sempat diguyur hujan, semangat masyarakat tidak surut dan tetap mengikuti jalannya acara hingga selesai.
Usai kirab, kemeriahan berlanjut dengan festival reog yang digelar mulai pukul 16.00 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB. Festival reog ini melengkapi dan menambah semarak rangkaian perayaan Ruwah Desa Banjaragung.
Pada malam harinya, rangkaian acara ditutup dengan pagelaran wayang kulit yang akan dimulai pukul 19.00 WIB hingga selesai. Pagelaran wayang kulit ini diadakan di lapangan Banjaragung dan membuat antusiasme warga dari berbagai kalangan.
Antusiasme warga terlihat sejak awal hingga akhir acara. Reza sebagai salah satu warga Banjaragung menilai festival tersebut mampu menghadirkan hiburan sekaligus kebersamaan.
“Festival ini cukup menarik karena bisa membuat warga berkumpul dan senang. Kostum-kostumnya juga mengesankan, ditambah tradisi lama yang kembali muncul dan menumbuhkan gotong royong masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Tujuh Nyawa Melayang di Jalan Nasional Area Mojokerto
Ketua panitia pelaksana, Danang mengatakan festival ini mengusung tema Banjaragung Bersholawat dan Berbudaya. Hal ini agar masyarakat tidak lupa sama Tuhan dan budayanya. “Kita ingin Banjaragung nggak lupa sama Tuhannya dan nggak lupa sama budayanya,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi pengingat identitas Banjaragung yang sering disalahartikan sebagai wilayah kota, padahal masuk Kabupaten Mojokerto.
Melalui kegiatan ini, Ruwah Desa Banjaragung menjadi langkah awal untuk kembali menghidupkan tradisi leluhur sekaligus sebagai sarana edukasi budaya bagi generasi penerus dan mendorong perekonomian warga setempat.
Kepala Desa Banjaragung Mujib menyampaikan, pelaksanaan festival ini sangat mengutamakan keterlibatan masyarakat lokal, terutama untuk pelaku UMKM. “Yang kita utamakan masyarakat lokal. Kemampuan warga kita munculkan, termasuk UMKM yang kita fasilitasi berjualan di lapangan sampai penutupan wayang kulit,” ujarnya.
Ia juga berharap pelaksanaan ruwah desa dan Festival Gunungan kedepannya dapat terus berkembang dan semakin baik, mengingat kegiatan ini baru pertama kali digelar. “Harapannya tahun berikutnya bisa lebih baik, lebih bagus, dan lebih semarak dari hari ini,” tambahnya. PUTRI
Editor : Imron Arlado