TRADISI Nyadran ini bertepatan dengan Ruwahan menjelang Ramadan. Ratusan warga tampak antusias dengan berbondong-bondong mengikuti kirab Tumpeng Ageng. Peserta kirab beratribut Majapahitan, berikut kelompok marawis dan banjari, mengiringi arak-arakan tumpeng ukuran jumbo tersebut dari kampung ke area punden Makam Mbah Jimat.
’’Tradisi Nyadran ini rutin kami gelar setiap bulan Ruwah menjelang Ramadan,’’ ungkap Lurah Blooto Wahyudi. Di kompleks Makam Mbah Jimat, warga kirim doa bersama berikut khotmil quran. Selain itu, seni karawitan turut dilibatkan. ’’Sesuai tujuan Nyadran ini, kami kirim doa untuk leluhur, keluarga yang mendahului hingga para pemimpin di lingkup kelurahan sampai negara,’’ jelasnya.
Usai kirim doa, Tumpeng Ageng berisi nasi putih, urap-urap dan lauk ikan kemudian dibagikan pada masyarakat berikut sekitar 200 tumpeng kecil dari swadaya warga. Sebanyak 1.300 kue serabi khas Kelurahan Blooto juga dibagikan secara cuma-cuma alias gratis hingga ludes. ’’Bedanya kali ini, tumpeng dan serabi kita bagikan. Jadi tidak sampai ada yang rebutan kayak tahun sebelumnya, bahaya,’’ kata Wahyudi.
Potensi budaya ini kontinyu dikembangkan dan dikelola untuk mewujudkan kampung berbudaya di kelurahan ujung barat Kota Mojokerto. Sebab, setiap tahun digelar melibatkan produk UMKM besutan warga setempat. Hal ini selaras dengan tujuan juga uri-uri budaya kearifan lokal yang dilestarikan hingga kini. ’’Nyadran ini juga sebagai sarana silaturahmi antarwarga. Karena warga yang kerja atau tinggal di luar kota pulang untuk ikut Nyadran,’’ paparnya.
Wahyudi menuturkan, tradisi serupa turut digelar di dua lingkungan lainnya, yakni Blooto dan Trenggilis. Bedanya, Ruwahan jelang Ramadan dihelat dengan pentas wayang. ’’Total Ruwahan di Blooto ada empat titik, untuk Nyadran hanya di Lingkungan Kemasan. Ruwah Dusun Lingkungan Blooto sudah lebih dulu tanggal 25 Januari kemarin. Kalau di Trenggilis nanti Sabtu (31/1),’’ tukas Wahyudi. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah