Upaya intervensi pencegahan dan penurunan stunting tingkat desa ini melibatkan seluruh elemen masyarakat. Dari perangkat desa, BPD, kader posyandu, kader PKK, tokoh masyarakat, tenaga kesehatan dan pendamping desa, hingga para orang tua anak.
Kepala Desa Kesimantengah Bangga Al Hakim mengatakan, langkah ini merupakan komitmen pemdes dalam mendukung program prioritas nasional untuk menurunkan angka stunting. Dalam acara Rembuk Stunting yang digelar beberapa waktu lalu, lanjut dia, pendamping gizi dari Puskesmas Pacet telah memberi paparan seputar stunting. ’’Materi yang disampaikan meliputi pentingnya gizi seimbang, sanitasi yang baik, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga pentingnya edukasi bagi ibu hamil dan keluarga muda,’’ tuturnya.
Poin penting yang ditekankan pendamping gizi adalah pentingnya intervensi sensitif dan spesifik. Hal itu seperti pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita, pemeriksaan rutin di posyandu, penyuluhan kesehatan keluarga, serta perbaikan pola asuh dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Merujuk prinsip tersebut, pemdes kini merumuskan lima langkah pengentasan stunting yang meliputi peningkatan frekuensi dan kualitas layanan posyandu, pelatihan kader kesehatan desa, penyediaan makanan tambahan bergizi untuk ibu hamil dan balita, perbaikan sarana sanitasi dan akses air bersih. Serta, penyuluhan kepada calon pengantin dan remaja tentang kesehatan reproduksi dan gizi. ’’Dengan terlaksananya kegiatan ini kami berharap bisa menurunkan angka stunting secara signifikan, serta menciptakan generasi penerus desa yang lebih sehat dan unggul,’’ papar Hakim.
Ia menambahkan, pemdes berkomitmen menangani persoalan stunting dengan serius. Anak-anak, menurut Hakim, merupakan masa depan desa yang harus dipastikan untuk tumbuh sehat, cerdas, dan kuat. ’’Perlu kerja sama semua pihak dari pemerintah desa hingga masyarakat sehingga program ini berjalan dengan maksimal,’’ tukasnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah