SEPERTI yang dilakukan warga Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, melalui pengelolaan Bank Sampah Teratai Indah. Sejak berdiri pada 2018, Bank Sampah Teratai Indah terus menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Direktur Bank Sampah Teratai Indah, Rina Subekti, mengatakan antusiasme pengurus dan partisipasi warga menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah di desanya. ’’Sejak 2018, Bank Sampah Teratai Indah terus mengalami peningkatan,’’ ujarnya.
Rina menjelaskan, pada Agustus lalu Bank Sampah Teratai Indah mendapat peninjauan dari tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam rangka penilaian Program Adipura. Penilaian tersebut meliputi administrasi, mekanisme pengambilan, hingga proses pemilahan sampah.
’’Bank Sampah Teratai Indah menjadi salah satu rujukan dalam penilaian Adipura,’’ tegasnya.
Menurut Rina, saat ini program Adipura mengalami transformasi signifikan. Tidak lagi sekadar simbol kota bersih, Adipura kini menjadi instrumen evaluasi kinerja pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah yang modern, adil, dan berkelanjutan. Penilaian mencakup tiga dimensi utama, yakni sistem pengelolaan sampah dan kebersihan, dukungan anggaran dan kebijakan daerah, serta kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung.
Hal senada disampaikan Pembina Bank Sampah Teratai Indah, Widarti. Ia menyebut konsep baru Adipura lebih menekankan pengurangan sampah dari sumber, penguatan peran masyarakat, serta sistem pemilahan dan daur ulang yang progresif. ’’Adipura kini bukan lagi sekadar penghargaan, tetapi menjadi alat perubahan,’’ ungkapnya.
Widarti menambahkan, meski Desa Sumbergirang belum memiliki TPS3R, aktivitas pemilahan dan penimbangan sampah di Bank Sampah Teratai Indah tergolong tinggi. Bahkan, bank sampah ini memiliki program tabungan emas hasil kerja sama dengan Pegadaian. ’’Warga bisa menjadi nasabah bank sampah sekaligus menabung dari hasil sampah rumah tangga,’’ ujarnya.
Dengan program tersebut, jumlah nasabah Bank Sampah Teratai Indah terus bertambah. Jika tahun lalu sekitar 100 nasabah, tahun ini meningkat menjadi lebih dari 150 nasabah. Proses pengambilan dan pemilahan sampah dilakukan dua kali dalam sebulan, yakni setiap dua minggu sekali pada hari Senin. ’’Biasanya nasabah mengambil hasil tabungan saat hari raya. Rata-rata bisa mendapatkan Rp 500 ribu, bahkan ada yang mencapai Rp1 juta,’’ pungkas Widarti. (dik/fen)
Editor : Fendy Hermansyah