Keberadaan Pasar Keramat tak sekadar sebagai sarana perputaran ekonomi, destinasi wisata ini sekaligus juga menjadi media edukasi dan konservasi lingkungan. Sejumlah lembaga pendidikan kini berdatangan untuk mengeksplorasi nilai kebudayaan hingga wawasan tentang alam di Desa Warugunung.
Pamong atau Hamengku Pasar Keramat Budi Harjo mengungkapkan, sejak dibentuk 22 Desember 2022 lalu, Pasar Keramat telah mengalami sejumlah transformasi. Pasar yang semula mengusung konsep wisata budaya bernuansa masa lampau ini kini telah berkembang menjadi wisata konservasi bambu.
Budi menyebutkan, upaya pengembangan tersebut ditandai dengan penanaman 500 bibit bambu dari berbagai jenis di sekitar Desa Warugunung. ”Tujuannya agar kelestarian alam desa tetap terjaga. Sebab, tanaman bambu membawa banyak manfaat,’’ tuturnya.
Dalam pelaksanaannya, Pasar Keramat berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Selain masyarakat Desa Warugunung, pihaknya juga turut menggandeng Yayasan Bambu Lingkungan Lestari. Dengan spirit kolaborasi tersebut, Pasar Keramat kini mampu menciptakan ekosistem wisata edukasi dan pelestarian lingkungan.
Field Officer Jatim Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Sahlan Junaedy menambahkan, tradisi budaya yang melekat pada Pasar Keramat sangat mendukung upaya pelestarian rumpun bambu di Desa Warugunung.
Salah satunya terbukti dengan adanya perubahan yang signifikan terhadap kepedulian masyarakat tentang sanitasi. Di antaranya makin berkurangnya warga yang membuang limbah rumah tangga secara langsung di lingkungan. ”Dengan adanya ruang publik dan sebuah pasar tradisional, warga memanfaatkan dan menjaga ruang-ruang ini menjadi lebih lestari,” ulasnya.
Tak hanya itu, bambu-bambu yang kian tumbuh subur juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Antara lain menyediakan cadangan air tanah meski saat kemarau tiba. ”Karena rumpun bambu ini bisa menyimpan air sebanyak 3 ribu hingga 5 ribu liter per sekali hujan,” tandasnya. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi