Pemerintah Desa (Pemdes) Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto mengembangkan budi daya tanaman golden melon. Ditanam dengan sistem hidroponik, buah berwarna keemasan ini berhasil panen perdana.
CAMAT Ngoro Satrio Wahyu Utomo berkesempatan untuk memetik hasil panen pertama dari budi daya golden melon yang berada di Dusun Sekantong RT 06/RW 01, Desa Kunjorowesi. Selain mampu jadi destinasi baru dengan konsep wisata petik melon, grand opening yang dibuka pada 24-26 Juni ini juga dapat menggerakkan perekonomian desa. ’’Karena hasilnya mencapai 820 buah melon dan habis terjual semua,’’ ungkapnya.
Satrio mengatakan, budi daya golden melon merupakan inovasi yang dikembangkan Pemdes Kunjorowesi dari dana desa tahun 2025 ini. Diharapkan, keberadaannya mampu menambah daya tarik di desa yang berada di lereng Gunung Penanggungan ini.
Kepala Desa Kunjorowesi Susi Sudarsono menambahkan, budi daya golden melon dilakukan sebagai wujud progam ketahanan pangan desa. Menurutnya, pertanian berkonsep green house ini merupakan hasil dari tudi tiru di Wates, Kabupaten Blitar beberapa waktu lalu. ’’Alhamdulillah panen pertama hasilnya bagus,’’ paparnya.
Sudarsono mengaku tak menyangka jika pengembangan budi daya golden melon tersebut mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Karena hanya dibuka dalam tempo tiga hari, ratusan melon laris manis terjual dengan banderol Rp 25 ribu per kilogram (kg). ’’Mungkin saking senangnya, sehingga warga tidak hanya petik melon saja, tapi juga dibuat untuk selfie,’’ tandas dia.
Dengan animo tinggi dari masyarakat, ke depan Pemdes Kunjorowesi berupaya untuk mengembangkan budi daya golden melon. Di antaranya dengan memaksimalkan kualitas dan kuantitas dari hasil panen. ’’Karena dengan sistem hodroponik, masa tanam mulai pertama sampai masa panen membutuhkan waktu sekitar 56 hari,’’ pungkasnya. (ram/fen)
Editor : Hendra Junaedi