PEMUDA Trawas bersama Pemerintah Desa Trawas hingga para pegiat lingkungan hidup, mulai dari We-Hasta, Aliansi Air, dan Jaga Semesta, melakukan kegiatan yang positif. Pasalnya, dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni, mereka menggelar beberapa rangkaian kegiatan.
’’Pemdes Trawas dan para pemuda Trawas menggelar aksi nyata, mulai dari tanam bibit bambu, penyebaran benih ikan, pembelajaran cara membuat kompos, hingga sarasehan,’’ kata Wulyono, Kepala Desa Trawas kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.
Wulyono sangat mengapresiasi dan mendukung langkah-langkah yang dilakukan pemuda Trawas ini. Penanaman bibit bambu yang ditanam diharapkan bisa memberikan dampak yang positif bagi semua makhluk. ’’Memang kita harus kembali ke alam. Pemdes Trawas sangat mendukung pemuda Trawas dalam konservasi air, bersih-bersih lingkungan kantor, hingga mengimbau untuk tidak menggunakan tas plastik,’’ tandasnya.
Sisyantoko, Direktur We-Hasta, menjelaskan kegiatan tanam bibit bambu ini melibatkan sekitar 350 bibit bambu yang ditanam di lahan dengan kemiringan 60 derajat di area Perhutanan Sosial Kelompok Tani Hutan Pringgondani Desa Trawas, Minggu (8/6). ’’Tujuannya yakni untuk konservasi air, menambah debit air, dan sebagai penahan air,’’ jelasnya. Dan di sore hari, dari anak kecil hingga pemuda juga melakukan kegiatan yang tak kalah positifnya. ’’Sore hari kami menebar benih ikan di mata air Sumber Macan Desa Trawas,’’ lanjut Sisyantoko.
Sisyantoko menambahkan, dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup kali ini memang ada rangkaian lagi, yakni pelatihan pengelolaan sampah (Bank Sampah) yang diikuti oleh semua Bank Sampah yang ada di Kabupaten Mojokerto, Sekolah Adiwiyata, Green School, dan TPS3R serta pemilik kafe yang ada di area Trawas di Paseban Agung, Senin (9/6). ’’Kegiatan ini mendatangkan narasumber dari beberapa lembaga, yakni Ketua Penggerak PKK yang diwakili Bu Siswati, Kepala DLH Kabupaten Mojokerto, Zaqqi, dan perwakilan dari We-Hasta,’’ ungkapnya.
Dalam kesempatan ini, pelatihan ini meliputi pengelolaan kompos kotoran hewan dan sampah industri. Sedangkan pengelolaan TPS3R meliputi pemilahan sampah organik/non-organik dan residu, pengelolaan Bank Sampah, pemanfaatan jelantah, serta pemanfaatan plastik sachet untuk didaur ulang menjadi stopper (penahan ban). ’’Kegiatan ini juga didukung oleh Indonesia FOLU dari Norwegia yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup,’’ terangnya. (dik/fen)
Editor : Hendra Junaedi