Pemerintah Desa Parengan, Kecamatan Jetis, berkomitmen menekan angka tengkes atau stunting akibat kurang gizi. Salah satunya dengan memaksimalkan peran posyandu dalam pemeriksaan kesehatan anak dan ibu hamil.
KEPALA Desa Parengan, Sali, mengatakan saat ini terdapat lima posyandu yang tersebar di lima dusun. Layanan kesehatan tingkat desa ini melayani seluruh masyarakat dari balita sampai lansia. ’’Tingkat kehadiran di posyandu sejauh ini 90 persen,’’ ucapnya.
Bagi Sali, tingginya kesadaran masyarakat untuk memeriksa kesehatan di posyandu menjadi faktor penting dalam mewujudkan desa sehat dan sejahtera, khususnya terkait upaya pengentasan angka tengkes.
Menurutnya, dari total 229 balita, masih ada tiga anak yang mengalami tengkes. Selain itu, terdapat 26 keluarga berisiko tengkes dan tiga ibu hamil dengan status KEK (kekurangan energi kronis). ’’Kami juga mendapatkan bantuan dan pendampingan dari kader posyandu dan TPPS (Tim Percepatan Penurunan Stunting) Kecamatan Jetis,’’ tuturnya.
Sebagai garda terdepan penanganan stunting, peran posyandu terus dimaksimalkan. Antara lain melalui fungsi pendataan, penimbangan, dan pengukuran bayi, serta pencatatan dan pelaporan. Selain itu, para kader posyandu juga rutin memberi edukasi dan konseling kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Pengentasan tengkes di Desa Parengan juga menjadi perhatian Pemkab Mojokerto. Bulan lalu, Bupati Muhammad Al Barraa menggelar program Gerakan Bersama Masyarakat di Posyandu Integrasi Terpadu (GEMAPITU) di pendapa balai desa setempat. Kegiatan ini merupakan penguatan penanganan tengkes yang terintegrasi dalam gerakan nasional Gerakan Percepatan Penurunan (GERCEP) Stunting.
’’Melalui GEMAPITU, masyarakat bisa cek kesehatan secara gratis, khususnya ibu hamil dan anak-anak. Kita berharap ke depan tidak ada kasus stunting, agar kita bisa menyiapkan generasi yang siap, tangguh, dan mampu menghadapi tantangan di masa depan,’’ kata Al Barraa. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi