Penurunan angka stunting menjadi fokus utama Pemerintah Desa (Pemdes) Plososari, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Salah satu caranya adalah dengan membudidayakan ikan lele dan nila agar bisa dikonsumsi masyarakat secara cuma-cuma, terutama bagi balita usia 0-6 tahun agar pertumbuhan dan perkembangannya tercukupi.
SEJAK 2024, dua kolam bioflok dan satu kolam irigasi telah dibangun guna menghasilkan ratusan kilogram ikan yang kaya akan protein dan nutrisi tersebut. Menggunakan alokasi 20 persen Dana Desa (DD), kolam-kolam tersebut kini telah tiga kali menuai hasil. Dengan sekali panen mampu menghasilkan 3 kuintal ikan.
’’Kami buatkan kolam sejak Juni tahun lalu dan sampai sekarang sudah tiga kali panen. Alhamdulillah, dapat mencukupi kebutuhan pangan warga, khususnya masyarakat miskin. Budi daya ini adalah program ketahanan pangan,’’ ungkap Kepala Desa Plososari, Ahmad Rifai.
Hasil panen ikan tersebut lantas dibagikan Rifai ke 60 hingga 70 kepala keluarga. Selain kepada warga miskin, ikan air tawar tersebut juga diberikan secara gratis kepada warga yang memiliki anak usia balita. Tujuannya adalah untuk memberikan asupan gizi yang cukup dan seimbang guna mencegah adanya stunting.
Sebab, kata dia, di Plososari sempat ditemukan 3 balita yang kesehatan di bawah garis merah pertumbuhan. ’’Setelah rutin diberi asupan ikan, saat ini sudah tidak ada bayi yang kekurangan gizi,’’ tandasnya.
Selain ikan lele dan nila, Pemdes juga berencana mengembangkan program ketahanan pangan ini ke komoditas ternak lain, yakni ayam petelur. Bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), diharapkan budi daya ayam petelur ini juga dapat menghasilkan nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
’’Rencananya tahun ini kami membudidayakan ayam petelur. Selain untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, juga untuk pengembangan usaha yang bisa dikelola secara mandiri oleh masyarakat secara langsung,’’ pungkasnya. (far/fen)
Editor : Hendra Junaedi