Kedaulatan pangan menjadi fokus utama program kerja Pemerintah Desa (Pemdes) Gayaman, Kecamatan Mojoanyar. Salah satunya dengan menjamin kesejahteraan petani dengan menyerap gabah hasil panen raya serentak tahun 2025.
Senin (14/4), sebanyak 20 petani dari 2 kelompok tani (poktan) turut mendapat sosialisasi terkait mekanisme penyerapan gabah. Bertempat di balai desa setempat, pemdes menyampaikan hasil Keputusan Kepala Bapanas Nomor 14 Tahun 2025 tentang Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan Rafaksi Harga Gabah dan Beras.
Di mana, HPP gabah kering panen (GKP) di tingkat petani dipatok sebesar Rp 6.500 per kilogram (kg). Harga tersebut lebih tinggi dari HPP sebelumnya yang hanya Rp 6.000 ribu per kg. ’’Pemerintah desa ikut berperan dalam menyejahterakan petani dalam menyediakan bahan pangan untuk masyarakat,’’ ungkap Kades Gayaman Joko Wahyudi.
Tidak hanya menyosialisasikan penyerapan, pemdes melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga ikut berkontribusi membeli gabah milik petani desa setempat yang sudah panen. Yakni, melalui sistem koperasi yang dikelola bersama dengan poktan dari dua dusun.
Harga yang dipatok pun tak jauh beda, Rp 6.500 per kg dengan kondisi gabah sudah bersih dan diangkut ke gudang. Tujuan dari penyerapan ini agar petani terhindar dari kerugian yang disebabkan adanya permainan harga panen gabah padi.
Selain itu, juga untuk menjamin kesejahteraan petani dengan memberikan langsung nilai keuntungan yang didapat dari hasil panen mereka. Cara ini ditempuh agar petani bisa melanjutkan program pertanian secara berkelanjutan.
’’Selama ini kan kendala yang dirasakan petani adalah harga gabah yang anjlok dan pencairan hasil panen yang tertunda. Dengan sistem koperasi yang diinisiasi BUMDes, petani di Gayaman bisa langsung menikmati hasil penjualan gabahnya,’’ tandasnya.
Di Desa Gayaman sendiri, selama ini terdapat 95 hektare sawah padi yang terhampar di dua dusun. Puluhan hektare sawah tersebut dikelola oleh 30 petani yang tergabung di dua poktan. Selain dari BUMDes, pemdes turut membuka peluang bagi Bulog untuk ikut menyerap gabah petani di musim panen pertama tahun 2025 ini. ’’Kami patok maksimal 5 ton gabah setiap petani. Selebihnya bisa dijual ke Bulog atau tengkulak,’’ pungkasnya. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi