POTENSI budidaya anggur di Kabupaten Mojokerto tampaknya sangat menjanjikan. Sebab, daerah ini didukung dengan topografi yang cocok dengan komoditas tersebut. Salah satunya yang saat ini tengah dikembangkan di Desa Kembangsri, Kecamatan Ngoro.
Budi daya anggur yang kini ditanam di Dusun Bangsri itu, salah satu upaya pemdes untuk mendukung swasembada anggur 2030.
Kepala Desa Kembangsri Muhammad Lamadi mengatakan, perkebunan desa tersebut merupakan lahan tanah kas desa (TKD) yang kini dijadikan perkebunan anggur. Sebab, lahan itu tidak akan optimal jika hanya ditanami padi.
’’Karena sekarang juga banyak buah impor, jangan sampai kita ketergantungan. Lebih baik bisa menghasilkan sendiri mengurangi ketergantungan impor, dengan swasembada anggur, supaya bisa mengurangi impor,’’ katanya.
Menurut Lamadi, dalam pengembangannya, pemdes bekerja sama dengan ASPAI (Asosiasi Penggiat Anggur Indonesia) DPD Mojopahit.
Ratusan bibit disemai sejak satu tahun lalu terdiri dari beberapa varian. Perkebunan anggur bisa bernilai ekonomi tinggi jika dikelola tepat. Seperti, dijadikan wisata desa untuk menggaet wisatawan berkunjung.
Itu bisa mendorong ekonomi masyarakat, mempromosikan UMKM dan meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADesa). ’’Paling penting untuk mendongkrak ekonomi masyarakat dan UMKM dari Desa Kembangsri. Jika sudah berkembang manfaatnya juga dirasakan pemdes, karena dapat meningkatkan PADesa,’’ jelasnya.
Dia menyatakan, pengembangan wisata perkebunan anggur ini terus dilanjutkan. Nantinya, ada olahan minuman jus anggur dan kincir angin sebagai ikon agrowisata Kembangsri. Pengunjung bakal diberi voucher senilai Rp.3.000. Itu bisa ditukar makanan dan minuman UMKM yang ada.
’’Kita ikut perkumpulan pengembangan anggur ASPAI Mojokerto dan kita diarahkan mulai bibit hingga berbuah. Untuk tiket masuk tidak ada, hanya menggunakan voucher yang dapat ditukar dengan makanan atau minuman dan produk UMKM,’’ tuturnya.
Nantinya perkebunan anggur dikolaborasikan dengan wisata desa. Seperti, kolam ikan, petik sayur yang juga masih dalam satu kawasan TKD agrowisata seluas 1.100 meter persegi tersebut.
Diakuinya saat ini pengembangan perkebunan anggur terkendala anggaran. Karena pemdes masih memprioritaskan pembangunan infrastruktur desa. ’’Jadi bertahap nanti sampai finis, seluas 370 meter lahan semuanya ditanami anggur. Untuk mewujudkan agrowisata di Desa Kembangsri,’’ pungkas dia. (oce/fen)
Editor : Hendra Junaedi