Selain dikenal sebagai Kampung Majapahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan juga sebagai pusat sentra kerajinan cor kuningan yang menembus pangsa ekspor. Untuk memaksimalkan potensi yang ada, Pemdes Bejijong lantas menggelar pelatihan bagi para perajin dengan menggandeng Disperindag Kabupaten Mojokerto dan Kementerian Perindustrian.
Kepala Desa Bejijong Pradana Tera Mardiatna menuturkan, penataran perajin di dua dusun ini bertajuk Pelatihan Teknis Rekayasa Teknologi Mesin Pengecoran Sederhana Produk Kuningan. ”Pelatihan ini kita laksanakan selama dua hari di balai desa pada 27-28 Agustus kemarin,” terangnya.
Salah satu program peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) itu, jelas Pradana, pemateri dari disperindag dan Kementerian Perindustrian memaparkan sejumlah materi. Khususnya, terkait rekayasa teknologi pengecoran sederhana. ”Dalam pelatihan teknis ini kita libatkan semua perajin cor kuningan yang jumlahnya 40 orang,” ujar Pradana.
Tujuannya, tak lain untuk menambah kapabilitas para perajin untuk menjaga sekaligus meningkatkan kulitas kerajinan khas Majapahitan tersebut. Sehingga patung cor kuningan dari desa dengan dua dusun semakin dikenal se-antero negeri hingga internasional.
”Tujuan utama dari pelatihan teknis ini, supaya kerajinan cor kuningan tetap eksis dengan kualitas, baik dari alternatif teknologi mesin pengecoran sederhana ini. Sehingga permintaan akan kerajinan bisa semakin meningkat,” paparnya. Sejauh ini, para perajin cor kuningan Bejijong biasa melayani pesanan ekspor dari buyer internasional. Baik dari Asia hingga Eropa.
Karya perajin Mojokerto ini pun kerap dijadikan buah tangan event internasional. Salah satunya KTT G20 di Bali pada 2022 lalu yang berdampak positif pada meroketnya permintaan cor kuningan hingga 60 persen.
Seperti diketahui, cor kuningan khas Majapahitan ini dipelopori Sabar (1912-1996) warga Desa Bejijong. Kini kerajinan diteruskan Hariadi Sabar, putra kelimanya, yang juga warga Desa Bejijong. Beberapa karya Hariadi Sabar di antaranya adalah monumen Joko Samudro di GOR Joko Samudro, Gresik, Monumen Perjuangan Kapten Mudita di Bali, hingga Patung Lidah Api di Jayapura. (vad/ris)
Editor : Hendra Junaedi