Komoditas buah jeruk di Desa Jrambe, yang merupakan sentra penghasil jeruk, kini memang sudah identik dengan wisata. Di sepanjang kawasan, warga setempat yang memiliki kebun jeruk menawarkan wisata petik jeruk.
”Hampir semua warga memiliki tanaman jeruk. Kurang lebih kalau total kebun jeruk yang dimiliki warga ada sampai 10 hektare,” ujar Kepala Desa Jrambe Adi Mulyo.
Pesona wisata petik jeruk itu kini sudah menjadi ikon desa. Jika sedang musim liburan panjang, lalu-lalang kendaraan dari luar daerah pun silih berganti menuju desa dengan tiga dusun ini.
”Kalau kebun wisata jeruk memang paling banyak ada di Dusun Jrambe, sudah terkenal sejak 2020 kemarin,” ungkapnya.
Sebagian besar varietas jeruk yang ditanam di desa itu adalah jeruk baby malang, yang dikenal sebagai jeruk yang bisa diperas, dan jeruk keprok yang mudah dikupas. Di lokasi, wisatawan tidak sekadar melancong di kebun jeruk.
Para pemandu yang merupakan warga setempat akan mengedukasi wisatawan tentang cara memetik dan memakan jeruk yang benar.
”Setiap kebun punya penanda sendiri yang digunakan untuk menarik pengunjung,” imbuh Adi.
Wisata Kebun Petik Jeruk di Desa Jrambe tidak setiap waktu dibuka. Tergantung pada jumlah jeruk yang siap petik di kebun tersebut.
Estimasi waktunya sekitar dua sampai tiga bulan. ’’Yang pasti yakni saat libur sekolah wisata ini pasti dibuka,” katanya.
Harga yang cukup murah dan pengalaman yang ditawarkan memang sukses menarik banyak pengunjung. Harga setiap jeruk yang ada di wisata Desa Jrambe sama, mulai dari Rp 5 ribu untuk tiket masuk.
Dengan ini pengunjung bisa sepuasnya makan jeruk di kebun, kemudian Rp 10 ribu per kilonya bagi mereka yang mau membawa pulang. (oce/ron)
Editor : Fendy Hermansyah