Sampah yang didominasi sampah rumah tangga ini telah menggunung selama berminggu-minggu dan menimbulkan bau tidak sedap.
Menurut warga, tumpukan sampah ini semakin parah dalam beberapa bulan terakhir. Sampah yang dibuang di lokasi tersebut tidak kunjung diangkut oleh petugas kebersihan.
Hal ini menyebabkan bau busuk yang menyengat ke lingkungan pemukiman dan pemandangan yang tidak sedap.
’’Sampahnya di sini tidak seimbang antara yang membuang dengan yang mengangkut.
Tempat ini sekarang menjadi langganan pembuangan sampah dari orang-orang desa sekitar sini, Seduri, Randubangu, Panjer, dan lain-lain.
Baunya sangat menyengat dan mengganggu aktivitas kami,’’ kata salah seorang warga yang tinggal di sekitar lokasi.
Warga telah mengeluhkan kondisi ini kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mojokerto. Namun, hingga saat ini belum ada tindakan yang diambil untuk mengatasi permasalahan tersebut.
’’Kami sudah melapor ke dinas terkait, tapi belum ada tanggapan. Dan demi kesehatan juga kebersihan lingkungan, kami menginginkan tempat sampah ini direlokasi. Tempat ini jelas tidak memenuhi syarat, terletak di akses masuk jalan kampung dan jarak dengan pemukiman juga sangat dekat,’’ jelas warga lainnya.
Ketua BPD Desa Seduri, Tohadim, belakangan warganya memang dibuat resah dengan tumpukan sampah yang tak terurus tersebut.
Warga berharap agar pemda segera mengambil tindakan untuk mengatasi permasalahan sampah yang menggunung di Desa Seduri karena saat ini dampaknya juga sangat berpotensi menimbulkan penyakit.
’’Baunya sangat mengganggu dan kami khawatir akan menimbulkan penyakit,’’ ungkapnya.
Pihaknya meminta kepedulian pemerintah Kabupaten Mopjokerto melalui dinas terkait, agar segera bertindak membersihkan sampah ini.
’’Terpenting, kami meminta dinas terkait mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan sampah di Desa Seduri ini,’’ tegasnya.
Dikonfirmasi Kepala DLH Kabupaten Mojokerto, Zaqqi menegaskan, DLH dan Desa Seduri sudah berkontrak untuk kerja sama pengangkutan sampah.
Namun, ada kewajiban memisah sampah organik dan nonorganik.
’’Jadi yang masuk ke lokasi mestinya sampah residu, tapi faktanya semua sampah masuk ke lokasi, sehingga menumpuk. Harusnya dipilah dulu oleh desa baru kami angkut ke TPA adalah residunya,’’ paparnya. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah