Tulkiyem sudah mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Mojokerto. Warga Mojosari itu mengaku sudah tidak tahan dengan perlakuan Mukiyo. ’’Ditelantarno. Nggak tahu (Mukiyo) pergi ke mana,’’ kata Tulkiyem mengawali percakapan.
Dia mengatakan, Mukiyo pergi dari rumah sekitar empat bulan lalu. Saat itu, ia sedang mengikuti kegiatan kantor di luar kota. ’’Untunge anakku gak dibawa. Nggak tahu nanti yaopo nek anakku juga dibawa minggat,’’ imbuh Tulkiyem.
Dia mengaku kerap bertengkar dengan Mukiyo setelah mempunyai anak. Gara-garanya, si suami tidak memiliki pekerjaan tetap. Tulkiyem pun harus pengertian. Dia mesti memenuhi semua kebutuhan rumah tangga. ’’Selama ini, masih numpang ndek rumah bapak. Orang tua soale nggak mau jauh,’’ ujarnya.
Tulkiyem mengungkapkan, beberapa kali Mukiyo keluar masuk perusahaan. Itu karena sang suami sering merasa tidak cocok dengan pekerjaannya. ’’Dia tipe susah diatur. Pengene mandiri, gak pengen nggantung wong liyo,’’ kata wanita berkacamata ini.
Beberapa usaha yang dijalankan Mukiyo juga kandas di tengah jalan. Mulai menjual makanan, bengkel, sampai jadi sopir taksi online. ’’Gak onok sing bener nek menurute,’’ imbuh Tulkiyem.
Menurut dia, Mukiyo pernah bercita-cita membuka galeri seni lukis. Namun, Tulkiyem dan orang tuanya menolak keinginan sang suami. ’’Nek wes nglukis, dekne lupa waktu dan lupa keluarga. Urip sak senenge. Tangi awan, ngrokoke koyok sepur,’’ terangnya.
Beberapa kali berunding, Mukiyo tetap kepada pendiriannya. Sekitar seminggu sebelum pergi, Mukiyo sempat memukul Tulkiyem. ’’Iki sing gak tak senengi, bapak juga. Main tangan,’’ ungkap dia.
Setelah kejadian itu, Mukiyo tidak banyak bicara dan lebih suka keluar rumah. ’’Metu isuk, moleh bengi. Kadang yo molehe subuh,’’ tutur Tulkiyem.
Karena sudah tak tahan, Tulkiyem yang tidak dinafkahi jasmani dan rohani selama empat bulan pun akhirnya mengajukan gugatan cerai. ’’Gak papa, aku yakin bisa nglakoni iki. Ada bapak ibu yang masih bantuin saya,’’ tandas dia. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah