EWK tak menampik jika tiga orang yang mempolisikannya, LA, AY, dan MY, merupakan member arisan ”klot BOOM 15 Des 2022” dengan get Rp 100 juta yang ia kelola. Arisan online ini mulai berjalan pada Desember 2022 dan seharusnya tuntas dua tahun kemudian atau Desember 2024. Menyesuaikan jumlah 25 nomor arisan sesuai urutan.
”Di dalam grup Whatsapp itu ada 11 orang peserta arisan. Satu peserta ada yang ikut dobel dua nomor bahkan ada yang sampai tujuh nomor,” jelasnya, Kamis (12/3). Ia menguraikan, di dalam kloter arisan itu terdapat sejumlah aturan yang wajib dipatuhi seluruh member. Di antaranya denda Rp 300 ribu per hari dan berlaku kelipatan bagi member yang telat bayar arisan tiap bulan.
Hingga seluruh arisan yang telah dibayar akan hangus dan di-blacklist jika member mundur di tengah jalan. ”Aturan ini juga sudah ada dan dicantumkan di grup Whatsapp masing-masing kloter,” terang perempuan 37 tahun ini. EWK menyoroti persoalan yang dialami salah satu membernya, LA. Bandar arisan online ini menguraikan, LA bergabung di tengah arisan berjalan pada April 2023 dengan ikut dua nomor sekaligus.
Dia mengklaim, LA menggantikan peserta lain yang sebelumnya mundur karena tidak membayar iuran selama beberapa bulan. LA wajib membayar arisan senilai Rp 7,8 juta per bulan. Namun, pembayaran yang dilakukan LA disebut tidak lancar sejak awal. ”Pembayarannya juga dicicil. Tapi, setelah berjalan, beberapa kali telat dan akhirnya tidak ada pembayaran lagi,” ucapnya.
Menurutnya, sempat ada kesepakatan untuk menangguhkan arisan milik LA selama dua bulan untuk melihat komitmen pembayaran selanjutnya. Namun, pembayaran yang dijanjikan tak kunjung berjalan lancar. ”Di chat pribadi dia juga sempat menyampaikan mundur pada 29 Februari 2024. Setelah itu tidak ada pembayaran lagi. Dalam aturan arisan, kondisi seperti itu berarti hangus,” beber owner salah satu kafe di Kota Mojokerto, ini.
EWK menuding, LA selama 10 bulan tidak membayar arisan dari total 25 bulan yang wajib diikuti. Total 78 juta duit arisan LA tak terbayar. Sementara denda berjalan Rp 300 ribu per hari hingga Desember 2024 dari dua nomor arisan ditotal mencapai sekitar Rp 174 juta. ”Artinya, kalau semisal denda dan kekurangan lainnya diambilkan dari get arisan (Rp 200 juta dari dua nomor, Red), dia masih minus sebanyak Rp 52,6 juta. Karena LA ini tidak pernah bayar denda,” ujarnya.
EWK menegaskan, sebagian besar member sebenarnya telah menerima pencairan arisan sesuai urutan. Dari total 25 nomor yang ada, lebih dari 20 nomor disebut sudah pernah cair. ”Yang bermasalah hanya beberapa saja,” tegasnya.
Dia menambahkan, arisan ”klot BOOM 15 Des 2022” ini mulai bermasalah Agustus 2024. Tepat saat nomor arisan AY dijadwalkan cair. Dalam arisan get Rp 100 juta ini AY membayar Rp 3,4 juta tiap bulan selama 20 bulan senilai total Rp 68 juta. Ketika itu, EWK hanya bisa mencairkan Rp 51 juta secara bertahap dari total Rp 100 juta yang mestinya didapat AY.
Praktis, tersisa sekitar Rp 49 juta yang belum dibayarkan EWK. Duit Rp 51 juta yang EWK cairkan tak lain dari pembayaran member lain hingga dana talangan pribadi. Sebab, ada sejumlah peserta arisan yang terlambat bayar bulanan hingga macet. ”Kalau ada yang bayar, saya teruskan. Bahkan, ada yang saya talangi dulu supaya anggota yang waktunya cair tetap menerima jatahnya,” tandasnya.
Dia menuding AY masih menyisakan kekurangan pembayaran sekitar Rp 12,5 juta. Rupanya, AY juga mengikuti kloter arisan lain yang dikelola EWK dengan get Rp 50 juta. Di kloter itu, AY telah merima pencairan arisan Rp 50 juta karena ikut nomor arisan urutan kedua. Tapi, lanjut dia, setelah cair Agustus 2024, AY tidak pernah membayar arisan Rp 5,5 juta tiap bulan lagi.
AY menyisakan 6 bulan tak terbayar. Jika ditotal, kekurangan bayar senilai Rp 33 juta. ”Di arisan get Rp 100 juta, AY membayar Rp 68 juta untuk 20 bulan. Dari yang sudah saya cairkan, dia surplus Rp 20,5 juta. Tetapi, kalau disilangkan dengan kekuragan di arisan get Rp 50 juta, sebanyak Rp 33 juta, dia masih kurang bayar Rp 12,5 juta,” rinci EWK.
Meski demikian, dia mengaku tetap berupaya menyelesaikan persoalan dengan itikad baik. Termasuk mencicil pengembalian dana kepada member yang masih memiliki kekuragan pembayaran arisan. Termasuk pada MY yang ikut satu nomor dengan pembayaran Rp 3 juta per bulan.
EWK menyebut, MY rutin membayar setiap bulan, kurun Desember 2022 hingga Agustus 2024 atau selama 21 bulan. Saat arisan milik MY dijadwalkan cair, EWK hanya bisa memberikan Rp 17,3 juta. ”Nominal itu menyesuaikan member lain yang sudah bayar bulanan. Karena MY ikut di nomer terakhir (25, Red). Jadi, sudah banyak member lain yang bayarnya macet,” imbuhnya.
Meski begitu, ia mengupayakan untuk menutup kekurangan sekitar Rp 83 juta pada MY dengan dicicil. Tetapi, menurut EWK, upaya itu sempat ditolak MY. ”Saya sempat transfer beberapa kali senilai Rp 3 juta untuk cicil, tapi justru dikembalikan lagi dan diminta tidak perlu dicicil,” tandasnya.
Dari situ, EWK menilai ada kejanggalan dari penolakan MY. Dia menegaskan selama proses hukum kasus dugaan arisan online bodong ini berjalan, EWK bersikap kooperatif dengan memberikan keterangan dan bukti transaksi yang diminta kepolisian. ”Saya datang setiap dipanggil dan semua bukti juga sudah saya serahkan,” tandas EWK.
Dia menuturkan, mulai mengelola arisan online sejak 2021 silam. Total sekitar 50 kloter arisan telah di-handle. Sejauh ini, baru satu kloter yakni ”klot BOOM 15 Des 2022” yang bermasalah hingga dibawa ke ranah hukum.
”Harapannya supaya pelaporan ini bisa segera diselesaikan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Karena sudah berjalan satu tahun juga,” paparnya. Kini, kasus dugaan arisan bodong yang sedianya ditaksir menimbulkan kerugian lebih dari Rp 1 miliar ini tengah diproses kepolisian. Kasatreskrim Polres Mojokerto Kota AKP Mangara Panjaitan menegaskan, pelaporan kasus dugaan tipu gelap ini kini tengah didalami. (vad/ris)
Editor : Fendy Hermansyah