Dituduh Tipu Calon Kadet Unhan, Sudah Kembalikan Separuh Biaya
KOTA – Bos bimbingan belajar (Bimbel) Hexagon di Kota Mojokerto, Widiarti Kuncoro (WK), akhirnya angkat bicara soal tuduhan penipuan terhadap siswa yang gagal masuk Universitas Pertahanan (Unhan). Perempuan 50 tahun asal Desa Talok, Kecamatan Dlanggu, itu mengaku masalah terjadi lantaran dirinya ditipu oleh pihak perantara.
Dia mengaku sudah mengembalikan separuh dari dana yang disetor korban sebesar Rp 275 juta dan akan segera membayar lunas. Setahun lalu, lanjutnya, korban Akhmad Syauqi meminta bantuan untuk meloloskan anak pertamanya, AN, ke Fakultas Kedokteran Militer Unhan dalam seleksi tahun ajaran 2025/2026.
Selain membayar biaya les privat Rp 25 juta, wali siswa juga menyerahkan duit dengan total hingga Rp 275 juta untuk biaya seleksi awal hingga jadi kadet. Namun, pemuda asal Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon, itu gagal masuk lantaran Widiarti dikhianati orang yang berposisi di atasnya. ”Saya juga korban. Uang titipan tidak sampai pada jalur yang benar. Saya tidak menduga kalau karakter orang yang saya titipi bisa berubah, sudah dua tahun saya nguber,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Senin (22/9).
Ibu empat anak itu menegaskan, penyerahan biaya kepada si perantara diketahui korban yang menyaksikan setiap proses transfer uang. Widiarti menambahkan, dirinya telah mencicil pengembalian Rp 150 juta kepada korban. Adapun kekurangannya sebesar Rp 125 juta akan dilunasi sebelum tenggat akhir bulan ini. Hal itu dia lakukan untuk menepati perjanjian pengembalian 100 persen dana jika siswa gagal masuk Unhan. ”Seharusnya itu bisa dijadikan indikator bahwa kami tidak ingkar,” tuturnya.
Widiarti juga mengaku tak pernah berniat menipu. Menurutnya, tahun ini bahkan Bimbel Hexagon berhasil meloloskan lima siswa. Tiga tahun lalu, dirinya juga membawa dua siswa menjadi taruna kedokteran Unhan. ”Sebenarnya secara materi bimbel kami layak. Orang tua siswa minta dibantu karena merasa SDM (sumber daya manusia) anaknya kurang,” cetus dia.
Kini, setelah kasus dugaan penipuan itu jadi polemik, bimbel spesialis sekolah kedinasan tersebut ditutup. Sedangkan, AN yang gagal masuk Unhan belakangan jadi mahasiswa Teknik Sipil ITS, Surabaya. Namun, Widiarti belum bisa bersikap soal adanya korban lain yang telah melapor ke Polres Mojokerto Kota. ”Saya belum tahu, kondisi saat ini tidak memungkinan untuk kemana-mana,” tandas perempuan yang kini telah meninggalkan rumahnya itu.
Sementara itu, kuasa hukum Syauqi, Rif'an Hanum, membenarkan telah ada pengembalian dana Rp 150 juta dari bos bimbel kepada kliennya. Pembayaran dilakukan pada 30 Agustus lalu sebesar Rp 100 juta dan 1 September sejumlah Rp 50 juta. Rif'an menyebutkan, sedikitnya ada dua korban lain yang mengalami nasib serupa. ”Saya hanya somasi, tapi ada yang lapor polisi juga,” imbuhnya. Sebelumnya, Kasatreskrim Polres Mojokerto Kota AKP Siko Sesaria Putra Suma menyatakan, laporan dugaan penipuan yang menyangkut Bimbel Hexagon telah naik tahap penyidikan. ”Sudah sidik,” ucapnya, Senin (22/9). (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi