Hasil Otopsi Jenazah Pelajar SMK di RS Bhayangkara
KABUPATEN – Penyebab kematian MA, pelajar SMK di Mojosari yang ditemukan tewas mengambang di Sungai Brantas pada 5 Mei lalu mulai menunjukkan titik terang. Kamis (22/5), tim dokter forensik RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong mengungkap hasil otopsi jenazah korban. Dari analisa yang dilakukan, disimpulkan jika kematian korban disebabkan akibat tenggelam.
Hal itu terlihat dari hasil pemeriksaan fisik dan uji laboratorium pada organ tubuhnya. Di mana, tidak ditemukan luka atau tanda kekerasan di sekujur tubuh pemuda 18 tahun ini.
Tim dokter forensik justru menemukan adanya lumpur pada saluran pernapasan bagian bawah. Hal itu menunjukkan jika korban kemungkinan besar masih hidup ketika tenggelam. ’’Korban menunjukkan tanda-tanda menghirup air saat masuk, ditandai adanya lumpur di saluran napas bagian bawah. Ini mengarah pada kesimpulan bahwa penyebab kematian adalah tenggelam,’’ ujar Dokter Spesialis Forensik RS Bhayangkara Pusdik Porong, dr Deka Bagus Binarsa.
Untuk memastikannya, tim medis turut memeriksa diatom pada sumsum tulang belakang korban. Pemeriksaan ini untuk menguatkan dugaan jika korban tewas karena tenggelam. Dari hasil uji laboratorium, sumsum tulang belakang positif terdapat organisme.
’’Organisme hanya bisa masuk ke sumsum saat seseorang masih bernapas di dalam air. Ini memperkuat korban meninggal akibat tenggelam, bukan karena kekerasan fisik,’’ tandasnya.
Sebelumnya, pihak keluarga sempat mencurigai jika korban tewas karena faktor kekerasan yang dialami sebelum ditemukan mengambang. Yakni, setelah ditemukan lebam pada bagian dada korban, serta rambut yang tampak lebih pendek dan tercerabut dari kulit kepala. Menanggapi kecurigaan tersebut, Deka menyebut jika proses pembusukan jenazah kemungkinan besar menjadi penyebab kerontokan rambut dan perubahan fisik.
Di mana, pembusukan dapat menyebabkan kulit di bawah akar rambut mengelupas, sehingga rambut mudah tercabut secara alami. Apalagi, saat jenazah ditemukan, arus Sungai Brantas juga dalam keadaan deras, sehingga rambut dapat dengan mudah tercabut.
Pun demikian dengan lebam di dada dan wajah korban, Deka menegaskan jika itu bukan disebabkan pukulan benda tumpul, melainkan bagian dari proses alami setelah kematian. ’’Harusnya ada resapan darah di bawah jaringan kulit akibat kekerasan. Tapi, dalam kasus ini tidak ditemukan. Warna merah keunguan itu merupakan tanda-tanda pembusukan yang umum terjadi. Dan pembusukan menyebabkan kulit di bawah akar rambut lepas. Hal ini wajar terjadi pada jenazah yang terendam air selama beberapa hari,’’ tegasnya.
Seperti diketahui, MA dilaporkan hilang sejak Sabtu (3/5). Janazah korban baru ditemukan dua hari kemudian dalam kondisi mengambang di Sungai Brantas perbatasan Mojokerto-Sidoarjo, tepatnya di Desa Bulang, Kecamatan Prambon. Saat ditemukan, korban masih mengenakan seragam sekolah. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi