KABUPATEN - MA, 18, ditemukan tewas mengambang di aliran Sungai Brantas perbatasan antara Desa Kedungmungal, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto dengan Desa Bulang, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, pada 5 Mei lalu.
Pihak keluarga menilai kematian siswa SMK ini tidak wajar hingga akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Polres Mojokerto. Jenazah korban kali pertama ditemukan warga di fondasi bendungan. Saat itu korban masih memakai seragam sekolah. Peristiwa yang terjadi pada Senin (5/5) petang ini sempat menggegerkan warga lantaran dikira masuk wilayah Desa Kedungmungal yang berada di sisi selatan sungai.
Kepala Desa Kedungmungal Sukarto lantas mendatangi lokasi setelah siang harinya sempat mendapat laporan warga atas temuan tas dan sepatu di tepi sungai. ”Warga lapor menemukan tas dan sepatu itu pada Senin (5/5) sekitar pukul 13.00. Sorenya ditemukan mayat itu. Tapi, tas dan sepatu itu ditemukan hari pada Sabtu (3/5),” ujar Kepala Desa Kedungmungal Sukarto, kemarin.
Oleh Polsek Prambon, saat itu juga jenazah korban dievakuasi ke RS Bhayangkara Porong. Dari situ dipastikan jika jenazah pelajar tersebut adalah MA. Siswa kelas XI SMK di wilayah Mojosari ini diketahui sebagai anak keempat pasangan Sandono, 65, dan Jamik, 52. Korban sempat dilaporkan ke polisi karena tak pulang ke rumah sejak Sabtu (3/5).
Jamik, ibu korban, mengaku belum bisa menerima kematian MA yang dinilai misterius setelah mendadak tidak pulang dari sekolah. ”Pada hari itu, anak saya dijemput temannya dengan sepeda motor di sekolah. Namun, hingga pukul 14.00, anak saya belum pulang. Saya suruh telepon teman-temannya, tapi (MA) tidak bisa dihubungi sampai habis Magrib,” kata Jamik.
Ketika itu, Jamik langsung meminta kakak korban untuk mencari keberadaan MA, namun tak membuahkan hasil. Sehari kemudian, dia mendapat kabar jika tas dan sepatu MA ditemukan di pinggir Sungai Brantas, Desa Kedungmual, Kecamatan Pungging.
Pada Senin (5/5), Jamik mendatangi sekolah MA dan bertemu guru korban. Dari situ dia mendapat informasi jika MA terakhir kali pergi bersama teman satu sekolahnya bernisial SM dan RF. ”Kami berharap agar kasus ini diusut tuntas dan pihak yang bertanggung jawab dapat diberikan hukuman yang setimpal. Saya tidak terima anak saya berangkat sekolah sehat wal afiat, tapi pulangnya jadi mayat,” urainya.
Hal senada dilontarkan kakak korban, Diki Sukono. Diki merasa ada kejanggalan di balik kematian MA. Salah satunya, ditemukan luka lebam pada bagian dada korban. ”Ada luka lebam merah di dada. Mungkin ada pengeroyokan. Rambut sudah agak pendek. Padahal, dia belum potong,” sebut Diki.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Mojokerto Iptu Suyanto membenarkan telah menerima laporan dari kelurga korban. Menurutnya, berdasarkan hasil visum tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh MA. ”Memang benar ada laporan (keluarga MA) setelah ada dugaan itu. Tapi, dari hasil otopsi tidak ada tanda-tanda kekerasan,” jelasnya. (vad/ris)
Editor : Hendra Junaedi