KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kasus bunuh diri di Kabupaten Mojokerto belakangan marak. Dalam sebulan terakhir sudah ada empat korban. Mereka nekat mengakhiri hidup karena mengalami depresi akibat terlilit utang, kesehatan yang memburuk, hingga putus cinta.
Kejadian bunuh diri yang dilakukan SP, 38, asal Kecamatan Pacet, Senin (3/4) malam, menjadi kasus paling baru. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai peternak itu ditemukan tewas gantung diri di kandang kambing, sekitar pukul 17.30. ”Kandang ini miliknya sendiri, jaraknya sekitar 500 meter dari rumah korban” kata Hadi, warga setempat.
SP meninggalkan seorang istri dan anak perempuan yang masih kecil. Selain merawat kambing, sehari-hari dia bekerja sebagai buruh tani. Impitan ekonomi diduga menjadi penyebab korban nekat mengakhiri hidupnya secara tragis. ”Kabarnya depresi karena pinjaman online (pinjol) tidak lunas-lunas begitu,” tandasnya.
Kapolsek Pacet AKP Amat mengatakan, di hari nahas itu, korban pergi dari rumah sejak sore. Karena sampai menjelang magrib tidak pulang, keluarganya pun curiga. Setelah dicari-cari, korban ditemukan sudah dalam kondisi gantung diri. Dari hasil identifikasi tak ditemukan bekas kekerasan di tubuh korban. Ciri fisik tubuh korban menunjukkan jika dia meninggal karena gantung diri.
Amat menjelaskan, motif ekonomi menjadi menyebab korban nekat mengakhiri hidup. Diduga korban mengalami depresi karena terlilit utang. Kondisi itu membuatnya terpaksa gali lubang tutup lubang, salah satunya dengan ambil pinjol. Namun, cara ini justru membuat kondisinya makin sulit. ”Dia berusaha membayar utang dengan cara meminjam pinjaman ke pinjol, namun tidak kunjung realisasinya,” ucapnya.
Kejadian yang menimpa SP ini menambah daftar panjang kasus bunuh diri di Mojokerto. Selama sebulan terakhir tercatat empat kasus dengan dua korban di antaranya anak muda. Sabtu (11/3), MJ, 25, warga Kecamatan Puri, nekat gantung diri lantaran mengalami depresi. Ayah korban mengidap penyakit stroke menahun sehingga membebani pikirannya. Kondisi ini sempat membuat korban melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya.
Tekanan psikologis juga menjadi pemicu AN, gadis 19 tahun asal Kecamatan Kutorejo nekat bunuh diri. Senin (6/3) malam, jasadnya ditemukan tergantung di pohon depan rumah tetangga. Korban disebut sempat menolak dijodohkan dan ingin menikahi pria pilihannya. Rabu (22/3), HM, 43, seorang penderita gangguan jiwa di Kecamatan Kemlagi nekat gantung diri lantaran depresi dengan kondisi kesehatannya.
Maraknya aksi bunuh diri, khususnya di kalangan pemuda ini disadari Psilokog Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Mojokerto, Salis Khoiriyati. Pihaknya meminta agar masyarakat lebih peka dengan orang-orang yang memiliki gejala depresi seperti sering menyendiri dan tidak peduli dengan lingkungan.
Mereka, menurutnya harus segera direspons dan dilakukan pendekatan. ”Mungkin diajak berkegiatan atau diberi terapi kognitif yakni mengubah pola pikir agar tidak terbelenggu dalam pikiran yang membebani. Kalau memang dirasa perlu penanganan, bisa diarahkan untuk mendapat pendampingan psikologi,” tandasnya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah