Kusman salah satu warga, mengaku, dibuat resah lantaran tiap turun hujan selalu berimbas pada genangan air di lingkungannya. Kondisi ini terjadi sudah bertahun-tahun. ’’Sudah menjadi langganan tiap musim hujan, lingkungan sini selalu tergenang,’’ ungkapnya.
Hanya saja, lanjut dia, lama tidaknya genangan tersebut menyesuaikan dam yang ada hilir. ’’Kalau dam di hilir tidak dibuka, bisa sampai tiga jam genangannya. Tapi kalau dibuka satu jam sudah surut,’’ tambahnya.
Menurutnya, genangan air yang terjadi di lingkungannya disebabkan berbagai faktor. Salah satunya karena tak berfungsinya gorong-gorong di sisi kanan dan kiri jalan. Sumbatan sampah yang terjadi selama ini kian memperparah. ’’Sebenarnya sudah ada selokannya. Bahkan ada dua, kanan dan kiri jalan. Tapi ya itu banyak sumbatan sampah,’’ sesalnya.
Disebutnya, sampah yang masuk selokan tak lain karena bak kontrol selama ini terbuka. Sehingga membuat sampah mudah masuk dan menumpuk. Selain itu, tutup gorong-gorongan juga banyak yang hilang. ’’Sumbatannya banyak, sudah berapa tahun tidak pernah ada kerja bakti. Bak kontrolnya juga banyak yang hilang diambil orang, sisi barat sana ada enam, di sini dua,’’ bebernya.
Dikonfirmasi, Lurah Jagalan, Eko Suyanto, membenarkan jika lingkungan Kalimati selama ini kerap terjadi genangan saat hujan deras. Selain disebabkan tempatnya cekung seperti mangkuk, saluran drainase sejauh ini tak berfungsi normal. ’’Sudah menjadi langganan. Kota Mojokerto ini kan ibarat seperti lepek. Tapi alhamudlillah, adanya pompa, air tidak sampai masuk ke rumah warga. Kalau dulu satu, dua haru baru surut, sekarang tidak sampai dua jam air sudah surut,’’ ungkapnya.
Kendati beitu, tahun ini pemeliharaan selokan di lingkungannya menjadi atensi perbaikan. ’’Semua persoalan, termasuk gorong-gorong maupun saluran sudah kita ajukan di Musrembang, dan sudah jadi atensi, pengerjaannya tahun ini oleh dinas PUPR,’’ katanya. (ori/ron)
Editor : Fendy Hermansyah