Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Taruna Pelayaran asal Bangsal Mojokerto Curhat ke Nenek Sering Dihajar Senior

Fendy Hermansyah • Rabu, 8 Februari 2023 | 13:12 WIB
DIUSUT: Proses pembongkaran makam korban di pemakaman umum Dusun Pudakpolo, Desa Puloniti, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Selasa (7/2) siang. (Sofan Kurniawan/JPRM)
DIUSUT: Proses pembongkaran makam korban di pemakaman umum Dusun Pudakpolo, Desa Puloniti, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Selasa (7/2) siang. (Sofan Kurniawan/JPRM)
Diduga Tewas Dianiaya, Makam Dibongkar untuk Proses Otopsi

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kepada neneknya, Muhammad Rio Ferdinan Anwar, 19, sering curhat mengalami perundungan. Taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Surabaya asal Dusun Pudakpulo, Desa Puloniti, Kecamatan Bangsal, itu pulang tanpa nyawa setelah lima bulan sebagai mahasiswa. Aiptu Mohammad Yani yang sehari-hari berdinas di Polsek Kutorejo mencurigai putranya tewas disiksa senior.

Kasus dugaan penganiayaan ini sedang didalami Polrestabes Surabaya. Selasa (7/2) siang, polisi membongkar makam korban guna proses otopsi. Ekshumasi melibatkan tim kedokteran forensik Polda Jatim ini berlangsung sekitar pukul 11.00. Proses penggalian makam yang baru berumur sehari itu disaksikan puluhan warga yang sejak pagi mengerumuni area pemakaman umum Dusun Pudakpolo di belakang asrama Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jatim tersebut.

Photo
Photo
DIUSUT: Proses pembongkaran makam korban di pemakaman umum Dusun Pudakpolo, Desa Puloniti, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Selasa (7/2) siang.


”Tujuan ekshumasi agar tim forensik Polda Jatim bisa menentukan apa yang menjadi penyebab kematian. Sehingga itu menjadi penting sekali dalam rangka penyidikan,” kata Kanitresmob Polrestabes Surabaya AKP Zainul Abidin di lokasi. Ekshumasi dilakukan atas permintaan keluarga korban. Mereka menganggap kematian mahasiswa semester pertama itu tidak wajar. ”Sebelumnya sudah dilakukan otopsi visum luar, tapi karena ini menyangkut nyawa seseorang, atas koordinasi dengan pihak keluarga kami lakukan ekshumasi,” tandasnya.

Bagi keluarga, kematian Rio tiga hari lalu memang meninggalkan banyak kejanggalan. Pada jasad anak sulungnya itu, Yani mendapati sejumlah luka bekas kekerasan di wajah, leher, dan dada. Bibirnya pecah dan lebam di sekitar mata seperti bekas tonjokan. Di kamar mayat, dari mulut mendiang terus mengalir darah.

Photo
Photo
DIUSUT: Proses pembongkaran makam korban di pemakaman umum Dusun Pudakpolo, Desa Puloniti, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Selasa (7/2) siang.


Sebagai anggota Polri yang sudah puluhan tahun berdinas, kondisi demikian dinilainya telah mengindikasikan adanya penganiayaan. Terlebih apabila disandingkan dengan keterangan korban meninggal karena terjatuh dari kamar mandi sebagaimana yang disampaikan pihak kampus. ”Saya melihat kondisi mayat seperti itu sudah pasti ada penganiayaan. Kalau dibilang jatuh di kamar mandi jelas tidak masuk akal,” tutur Yani, kemarin (7/2).

Yani mendapat kabar putranya telah meninggal di kampus poltekpel pada Minggu (5/2) malam sekitar pukul 22.45. Saat itu, jenazah korban sudah berada di Rumah Sakit Umum (RSU) Haji, Sukolilo, Surabaya. Di sanalah, pria 47 tahun ini mendapati tubuh mendiang anaknya dalam kondisi mengenaskan.

Karena merasa janggal atas kematian korban, Yani lantas melapor ke Polsek Gununganyar yang menaungi wilayah hukum kampus tersebut berada pada Senin (6/2) dini hari. Ketika itu juga, jenazah korban kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim untuk dilakukan visum luar. ”Waktu itu hanya divisum luar, terus ini kita minta digali untuk visum dalam (otopsi) karena ada indikasi penganiayaan,” ucap polisi yang menjabat sebagai Kepala SPKT Polsek Kutorejo ini.

Photo
Photo
DIUSUT: Proses pembongkaran makam korban di pemakaman umum Dusun Pudakpolo, Desa Puloniti, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Selasa (7/2) siang. (Sofan Kurniawan/JPRM)


Yani bersama petugas kepolisian datang ke kampus untuk memastikan apa yang dialami anaknya. Di sana, dia mendapati rekaman CCTV yang menunjukkan detik-detik Rio diduga dihabisi di kamar mandi. Saat itu, sekitar pukul 19.30, dua jam sebelum dia menerima kabar anaknya meninggal, Rio bersama taruna muda lain terlihat berbaris di lorong.

Rio yang berada di barisan depan terlihat dipanggil masuk ke kamar mandi. ”Delapan menit kemudian anak saya dibopong tiga orang keluar kamar mandi dan bajunya sudah diganti. Saat itu sudah tidak bernyawa, jadi kemungkinan selama delapan menit itu dianiaya atau diapakan,” urai Yani.

Photo
Photo
DIUSUT: Proses pembongkaran makam korban di pemakaman umum Dusun Pudakpolo, Desa Puloniti, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Selasa (7/2) siang. (Sofan Kurniawan/JPRM)

Rio terdaftar sebagai mahasiswa Poltekpel Surabaya sejak September lalu. Selama empat bulan, dia tidak pulang karena mengikuti masa pendidikan dasar. Rio baru bisa pulang rutin seminggu sekali sebulan terakhir ini. Selain pulang ke rumah orang tuanya, pemuda itu juga sering mampir di rumah neneknya di Mojosari. ”Kalau ke saya tidak cerita apa-apa. Tapi kalau ke neneknya bilang sering di-bully dan dihajar,” ungkapnya.

Suasana tak menyenangkan itu didapat korban dari senior-seniornya. Rio mengaku tidak betah karena sering menerima perundungan dan mengalami kekerasan. Saat itu, keluarga meminta apabila korban merasa tidak nyaman lebih baik keluar dari kampus. ”Mungkin pelanggaran kecil langsung diapakan. Ya, itu memang mungkin untuk kedisiplinan, tapi kalau sampai meninggal begini sudah beda cerita,” lontarnya. (adi/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #mahasiswa poltekpel #Pemkot Mojokerto #politeknik pelayaran #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #ekshumasi #kerajaan majapahit #Kota Mojokerto #taruna pelayaran #mojokerto #poltkpel surabaya #soekarno #otopsi #trowulan #onde-onde