MOJOKERTO RAYA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Angka kecelakaan lalu lintas di Kota dan Kabupaten Mojokerto cukup tinggi. Setiap hari, rata-rata dua nyawa melayang akibat kecelakaan. Kejadian didominasi melibatkan kalangan pelajar.
Tingginya angka kecelakaan lalu lintas menjadi perhatian serius Forum Komunikasi Lalu Lintas (FKLL) Mojokerto. Jajaran yang di antaranya melibatkan dishub dan kepolisian itu melakukan berbagai upaya pencegahan guna menekan potensi kecelakaan. ”Kita melakukan sosialisasi secara terus menerus agar kecelakaan bisa diminimalisir,” ujar Kepala UPT P3 LLAJ Mojokerto Dishub Jatim Yoyok Kristyowahono, kemarin.
Yoyok menyebut, berdasarkan data kepolisian, jumlah kecelakaan di Mojokerto Raya cukup mengkhawatirkan. Demikian pula dengan tingkat fatalitasnya. ”Setiap hari minimal dua orang meninggal dunia, ini yang menjadi permasalahan di Kota dan Kabupaten Mojokerto,” terangnya.
Satlantas Polres Mojokerto mencatat, sebanyak 661 insiden kecelakaan lalu lintas terjadi selama delapan bulan terakhir, Januari-Agustus. Seluruh kejadian mengakibatkan 117 orang meninggal dunia, delapan orang luka berat, dan 665 orang luka ringan. Sementara itu, dalam periode sama, Satlantas Polres Mojokerto Kota melaporkan sebanyak 264 kejadian kecelakaan dengan korban jiwa 44 orang, korban luka berat 20 orang, dan korban luka ringan 329 orang.
Menurut Yoyok, keterlibatan kalangan pelajar dalam kasus kecelakaan cukup tinggi. ”Pelajar ini mendominasi angka kecelakaan. Sebab mereka banyak yang tidak mempunyai SIM,” tandasnya.
Hal ini bisa dilihat melalui data Satlantas Polres Mojokerto Kota selama 2021 yang menyebutkan dari 357 kejadian, sebagian besar melibatkan kalangan produktif rentan usia 16-30 tahun yang di dalamnya terdapat pelajar dan karyawan swasta. Angkanya terbagi 165 orang sebagai korban dan 127 orang sebagai pelaku kecelakaan. Angka ini jauh di atas kalangan usia lainnya.
Dalam upaya pencegahan, lanjutnya, kalangan tersebut menjadi sasaran prioritas. Selain upaya sosialisasi, pihaknya juga menginventarisasi kelengkapan infrastruktur jalan guna mencegah kecelakaan. Salah satu upaya itu yakni memasang rambu-rambu jalan di titik rawan. ”Kita maksimalkan pemasangan rambu-rambu atau fasilitas keselamatan jalan di area yang kita nyatakan sebagai black spot,” ungkap Yoyok.
Menanggapi tingginya kalangan pelajar yang terlibat kecelakaan, KBO Satlantas Polres Mojokerto Kota Iptu Sukaren menyatakan, pihaknya terus mempersiapkan langkah tindak lanjut terkait banyaknya kalangan pelajar yang menggunakan kendaraan bermotor meskipun belum cukup umur.
”Orang tua yang sibuk bekerja banyak yang menyerahkan kendaraan ke anaknya, termasuk keterbatasan angkutan umum juga menjadi kendala. Nanti kami sampaikan ke pihak forum dan pimpinan untuk ditindaklanjuti,” jelasnya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah