”Saya kira bukan warga yang menutup, kalau yang menutup warga mungkin sudah banyak orang di sana. Ya, daripada ramai karena ada masalah, mungkin sekarang lebih baik tidak ada aktivitas dulu,” ujar Iin Faziyah, warga setempat, Rabu (29/6).
Memang, kondisi TPQ di bawah naungan Yayasan Ziyadatul Mubarokah Rabu siang tidak tampak adanya aktivitas belajar TPQ. Jika biasanya ramai akan aktivitas belajar satri, kini mendadak sepi dan lengang.
”Kalau saya lihat sekarang ini tidak ada aktivitas belajar. Sebelum ada masalah santrinya banyak, ada 100-an,” imbuh Iin yang sebelumnya pernah mengabdi sebagai ustazah di TPQ tersebut.
Tidak adanya aktivitas tersebut diduga setelah dugaan kasus asusila dilakukan seorang ustad berinisial RD, satu bulan lalu beredar di tengah masyarakat. RD diduga telah berbuat asusila terhadap tiga santri laki-lakinya yang masih di bawah umur. Masing-masing dua korban berusia 12 tahun, dan satu korban berusia 15 tahun.
Iin menambahkan, sebelumnya tak ada yang kecurigaan apa pun terhadap sikap RD. Bahkan, ustaz tersebut belakangan ini dikenal baik dan ramah. Sehingga banyak santri yang memilih untuk belajar atau mengaji di TPQ
tersebut. ”Saat saya masih mengajar di sana orangnya baik dan ramah kok. Ya biasa-biasa saja,” imbuh dia.
Dugaan kasus asusila ini mencuat setelah ketiga korban melaporkan tindakan RD kepada orang tua masing-masing. Tidak terima dengan kelakuan RD terhadap anak mereka, para orang tua korban ini lantas melapor ke polisi. Kini kasus tersebut sedang dalam proses penyelidikan Polres Mojokerto. ”Kami berharap segera ada tindakan tegas dari kepolisian kepada pelaku,” kata Ansorul Huda, kuasa hukum korban. (vad/fen) Editor : Fendy Hermansyah