Peran Ponpes Nurul Islam dalam Membentuk Karakter Santri di Era Modern

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 22:06 WIB
Ahmad Jatmiko Arifianto dan Muhammad Rayhan Syah Putra. Pembimbing: Rokhmat Sugianto, S. Sos.
Ahmad Jatmiko Arifianto dan Muhammad Rayhan Syah Putra. Pembimbing: Rokhmat Sugianto, S. Sos.

OLEH: Ahmad Jatmiko Arifianto dan Muhammad Rayhan Syah Putra. Pembimbing: Rokhmat Sugianto, S. Sos.

PONDOK Pesantren Nurul Islam Mojokerto hadir sebagai lembaga pendidikan yang berupaya mengintegrasikan nilai-nilai pesantren dengan perkembangan pendidikan modern. Prinsip Al-Muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal-akhdzu bil-jadidil ashlah, yang berarti memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik, menjadi salah satu landasan dalam menghadapi perubahan zaman. Melalui prinsip tersebut, pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Islam tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter yang mencakup aspek spiritual, sosial, emosional, dan moral. Santri dibimbing agar mampu menjadi pribadi yang berakhlakul karimah, disiplin, bertanggung jawab, mandiri, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kehidupan masyarakat modern.

Pembentukan karakter santri di Pondok Pesantren Nurul Islam berlangsung melalui berbagai kegiatan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Kedisiplinan dan kemandirian dibangun melalui aturan serta rutinitas pesantren, seperti bangun pada dini hari untuk melaksanakan ibadah, mengikuti salat berjamaah, mengaji, belajar sesuai jadwal, serta mengurus kebutuhan pribadi. Kehidupan berasrama juga memberikan pengalaman kepada santri untuk hidup bersama, saling menghargai, bekerja sama, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Kebiasaan tersebut secara perlahan membentuk karakter santri agar mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun lingkungan di sekitarnya.

Selain kedisiplinan dan kemandirian, pembentukan akhlak dan spiritualitas menjadi bagian utama dalam pendidikan pesantren. Kegiatan salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, mengaji kitab, wiridan, serta berbagai kegiatan keagamaan lainnya menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai keislaman. Santri dibiasakan untuk menghormati guru, bersikap tawadhu', menjaga tutur kata, dan menjunjung tinggi adab. Pendidikan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur berdasarkan prestasi akademik, tetapi juga melalui perilaku dan akhlak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Peran pengasuh, kiai, guru, dan ustaz/ustazah juga sangat penting dalam proses pembentukan karakter. Keteladanan menjadi salah satu metode pendidikan yang kuat karena santri tidak hanya menerima nasihat, tetapi juga melihat secara langsung perilaku yang dicontohkan oleh para pendidiknya. Kesederhanaan, kedisiplinan, ketawadhuan, kerapian, tanggung jawab, serta cara berinteraksi dengan orang lain menjadi contoh yang dapat ditiru oleh santri. Dalam konteks ini, pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, tetapi harus diwujudkan melalui perilaku nyata yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh lingkungan pesantren.

Pondok Pesantren Nurul Islam juga menerapkan lima sistem kepengasuhan yang mendukung pembentukan karakter santri, yaitu Tarbiyah, Qudwah, Uswatun Hasanah, Reward, dan Punishment. Tarbiyah diwujudkan melalui proses pembelajaran yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mendidik santri agar memiliki kepribadian yang baik. Qudwah diwujudkan melalui pendampingan dan konseling yang dilakukan oleh wali kamar, wali kelas formal, dan wali kelas diniyah. Ketiga wali tersebut berperan sebagai pendamping yang membantu santri menghadapi berbagai persoalan selama berada di pesantren. Sementara itu, Uswatun Hasanah menekankan pentingnya keteladanan dari pengasuh dan para pendidik sebagai contoh nyata bagi santri.

Sistem Reward diberikan kepada santri yang menunjukkan prestasi, kegigihan, dan ketekunan sebagai bentuk penghargaan sekaligus motivasi untuk terus berkembang. Sebaliknya, Punishment atau takziran diterapkan kepada santri yang melanggar aturan sebagai bentuk pembelajaran mengenai tanggung jawab dan konsekuensi dari setiap tindakan. Kedua sistem tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan yang bertujuan membangun kesadaran santri agar mampu memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan setiap keberhasilan membutuhkan usaha serta kedisiplinan.

Dalam menghadapi era modern, Pondok Pesantren Nurul Islam juga berupaya mengintegrasikan pendidikan keislaman dengan pengetahuan umum, keterampilan, dan teknologi. Santri tidak hanya mempelajari ilmu agama melalui pendidikan pesantren dan madrasah diniyah, tetapi juga mendapatkan pendidikan formal serta berbagai kegiatan pengembangan diri. Kegiatan seperti pramuka, pelatihan kepemimpinan, kewirausahaan, kerja bakti, dan aktivitas sosial memberikan pengalaman kepada santri untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, memimpin, serta bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. Fasilitas teknologi yang tersedia juga dapat menjadi sarana bagi santri untuk mengikuti perkembangan zaman dengan tetap berada dalam batas nilai dan norma yang berlaku di pesantren.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dipahami bahwa pendidikan karakter di Pondok Pesantren Nurul Islam memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan generasi muda di era modern. Perkembangan teknologi memberikan banyak manfaat dalam bidang pendidikan dan komunikasi, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk menggunakannya secara bijak. Nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren, seperti disiplin, tanggung jawab, kemandirian, tawadhu', kepedulian sosial, dan akhlakul karimah, menjadi bekal penting bagi santri dalam menghadapi berbagai perubahan tersebut. Dengan demikian, pesantren tidak harus mempertentangkan tradisi dengan modernitas, tetapi dapat menggabungkan keduanya secara seimbang untuk menghasilkan generasi yang tetap memiliki identitas keislaman sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. 

Dengan demikian, Pondok Pesantren Nurul Islam berperan penting dalam membentuk karakter santri melalui pembiasaan, keteladanan, pembelajaran, dan kegiatan sosial. Perpaduan nilai-nilai salaf dengan pendidikan modern membekali santri agar memiliki akhlak yang baik, mandiri, disiplin, bertanggung jawab, serta mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. (*) 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
Nuris mojokerto opini jawa pos radar mojokerto ponpes nurul islam opini siswa