Achmat Atem, Relawan Punokawan Mojopahit, Modal Motor dan Bensin Sendiri, Evakuasi Korban Musibah

Farisma Romawan • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 09:46 WIB
AKSI KEMANUSIAAN: Aden, sapaan Achmat Atem ketika beraksi melakukan evakuasi korban kejadian kecelakaan, beberapa waktu lalu.
AKSI KEMANUSIAAN: Aden, sapaan Achmat Atem ketika beraksi melakukan evakuasi korban kejadian kecelakaan, beberapa waktu lalu.

Semangat tulus dan kepedulian sosial tanpa pamrih terus ditancapkan Achmat Atem, relawan Punokawan Mojopahit asal Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Aktif mendedikasikan waktu dan tenaganya sejak tahun 2017, pria yang akrab disapa Aden ini terus berada di garis depan kemanusiaan, terutama ketika ada musibah yang menelan korban, baik luka maupun meninggal dunia.

’’KARENA kita diburu waktu untuk evakuasi. Apalagi ketika ada korban yang membutuhkan pertolongan secepatnya,’’ ungkapnya. Bagi pria 31 tahun ini, aktivitas kerelawanan bukanlah sekadar ajang unjuk kebolehan, melainkan sebuah bentuk panggilan jiwa.

Kepekaannya terhadap musibah dan kesulitan sesama menjadikan spiritnya untuk ikut memberikan pertolongan. Bahkan, tak jarang aksinya itu turut membantu aparat penegak hukum dalam mengungkap tabir masalah. Seperti temuan potongan tubuh yang tercecer di hutan jurang Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Setelah seluruhnya ia evakuasi dan diselidiki kepolisian, muncullah nama Tiara Angelina Saraswati sebagai korban mutilasi oleh kekasihnya sendiri, Alvi Maulana. ’’Semula saya mengira potongan tubuh orang sakit. Tapi setelah ditemukan banyak bagian, dari situ saya yakin kalau itu korban mutilasi,’’ imbuhnya.

Tidak sekadar membantu mengungkap perkara, Aden juga berusaha semaksimal mungkin membantu mengevakuasi korban secara utuh tanpa meninggalkan sisa. Hal ini untuk menjaga martabat kemanusiaan korban serta mencegah bahaya susulan. ’’Kasihan korban dan keluarganya jika ada yang masih kurang,’’ tandasnya.

Meski demikian, langkahnya tersebut bukan tanpa hambatan. Di beberapa momentum, ia kerap kali terlambat mengevakuasi karena minimnya sarana. Selama ini, ia hanya mengandalkan satu unit motor yang didapat dari hadiah. Itu pun PPPK paruh waktu ini harus mandiri membiayai akomodasi ke tempat kejadian perkara (TKP).

’’Kadang-kadang kehabisan atau bensinnya tipis. Sering kali terlambat ke lokasi. Tetapi, alhamdulillah masih diberi motor, sebelumnya hanya punya sepeda pancal,’’ pungkasnya. (far/fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
relawan kemanusiaan Achmat Atem relawan punokawan mojopahit