Literasi Rendah Itu hanya Perasaan Kita
KOTA - Menciptakan pengalaman membaca buku sebagai sesuatu yang menyenangkan menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan minat baca pada generasi muda. Membuat konten yang menarik tentang buku di media sosial hingga menggelar diskusi bedah buku di warung kopi adalah di antara caranya.
Hal itu disampaikan Uswatun Hasanah, ustazah dan penulis buku asal Kota Mojokerto. Perempuan yang biasa disapa Ning Uswah Syauqie itu memiliki pandangan, anggapan rendahnya tingkat literasi pada generasi muda tak ubahnya sebuah ilusi. Ia mengungkapkan, kemampuan literasi tidak bisa diukur dari sekadar tinggi rendahnya minat baca masyarakat. ’’Karena sebenarnya literasi itu luas,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto saat berbicara tentang Hari Literasi Internasional 2026 yang diperingati setiap 8 September.
Uswah bercerita, dirinya pernah menganggap literasi di Mojokerto masih kurang saat kali pertama menginjakkan kaki di bumi Majapahit. Saat itu, pasangan Ketua Yayasan Ponpes Al-Azhar, Kota Mojokerto, Syauqie Advan Futaqie, tersebut merasakan sulitnya menemukan toko buku. ’’Lebih banyak warung kopi, bahkan kafe menjamur,’’ ujar perempuan kelahiran Surabaya ini.
Namun, anggapan tersebut segera terpatahkan ketika dirinya mendapati banyaknya kegiatan perbukuan dan tingginya minat anak-anak muda terhadap buku. Belum lagi dari lingkungan terdekatnya, Uswah menyadari orang tuanya selalu mengusahakan menyediakan buku-buku yang ia sebut sebagai suplai agar mendapat asupan membaca secara gratis.
Optimisme Uswah kian tumbuh tatkala dirinya bergabung dengan komunitas baca, mengikuti akun-akun medsos yang membahas buku, berteman dengan orang yang suka membaca, menulis, dan mengulas buku atau mendiskusikannya. ’’Setelah itu, aku tidak lagi menganggap bahwa Mojokerto itu literasinya rendah. Ternyata Mojokerto itu literasinya tinggi, ketika pandai-pandai mencari teman yang sefrekuensi,’’ tuturnya.
Salah satu pengalaman yang paling menyentak Uswah dapatkan ketika menghadiri bedah buku Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching di Warung Rakyat, Sooko.
Dari yang awalnya skeptis buku kritis ini banyak diminati, ia justru mendapati membeludaknya peserta yang hadir dan kebanyakan merupakan anak muda pelajar SMA serta mahasiswa. ’’Jadi literasi rendah itu hanya perasaan kita saja,’’ ungkap penulis buku Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian itu dengan nada tawa.
Menurutnya, untuk menularkan minat baca kepada generasi muda, diperlukan cara-cara antimainstream dengan masuk ke dunia yang kini mereka sukai. Seperti menghadirkan buku melalui medsos dengan membikin konten yang menarik dan relevan.
’’Kalau mereka suka ngopi dan nongkrong, kenapa tidak membuat diskusi buku di warung kopi atau toko buku? Bahkan kalau perlu, kampanye mencintai literasi dibuat dengan gaya yang memang mereka konsumsi setiap hari dan menjadi bagian dari gaya hidup,’’ terangnya.
Bagi Uswah, minat baca perlu dipupuk sejak awal dengan menciptakan pengalaman membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan. Hal itu perlu didukung dengan menyediakan rekomendasi buku yang menarik, bekerja sama dengan perpustakaan setempat milik dinas atau pribadi, hingga memperbanyak event membaca buku seperti tren ’’membaca senyap’’ yang saat ini sedang ngetren di kalangan anak muda Mojokerto.
’’Karena pada dasarnya, gen Z itu gampang FOMO dengan sesuatu dari lingkungan. Kalau kita berada di lingkungan yang suka membaca, berdiskusi, bertukar rekomendasi buku, atau bahkan sekadar membicarakan buku yang baru selesai dibaca, lama-lama rasa penasaran itu bisa muncul,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto