JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Partai Solidaritas Indonesia menempuh jalur elektoral yang tidak biasa menjelang 2029. Setelah gagal pada ambang batas parlemen pada 2024 dengan hanya meraih 4.260.169 suara nasional atau 2,80 persen, jauh dari ambang batas 4 persen.
Berdasarkan pandangan saya PSI kini memulai dengan 3 strategi yang saling menopang yaitu figur Jokowi, migrasi elite politik, dan rekrutmen artis. Bagi saya, ketiga strategi ini sebenarnya menyingkap satu kegagalan yang sama karena sepuluh tahun berdiri, PSI belum juga menemukan cara membangun basis pemilih dari bawah, sehingga jalan pintas lewat figur dan popularitas orang lain menjadi pilihan yang hampir tak terelakkan.
Wajah Pertama: Personalisasi Lewat Jokowi
Wajah pertama tentu figur Joko Widodo. Sejak akhir Juni 2026 mantan presiden ini menjalani safari politik yang dimulai dari Lampung, berlanjut ke NTT dan Jawa Barat, hingga akhirnya menyasar Jawa Tengah yang dimana basis dari PDIP yang oleh PSI ditarget menjadi "Kandang Gajah" pada 2029.
Dalam setiap kunjungan itu Jokowi terlihat konsisten tampil dengan atribut PSI, namun ketika ditanya soal posisi resminya di partai, ia hanya menjawab sebagai "motivator"bukan Dewan Pembina seperti yang berulang kali diisukan.
Bagi saya, jawaban yang sengaja dibiarkan mengambang itu justru adalah inti dari strategi ini, bukan sekadar basa-basi. Selama Jokowi tidak tercatat resmi di struktur partai mana pun, ia bisa terus berkeliling sebagai "warga negara biasa" sambil membawa seluruh daya tarik elektoral seorang presiden dua periode, tanpa harus menanggung konsekuensi hukum maupun etik dari status kepartaian formal.
PSI mendapat untung ganda dengan memakai nama besar Jokowi untuk menutup defisit elektabilitas yang sudah gagal dua kali pemilu berturut-turut, sekaligus membiarkan publik menebak-nebak sendiri seberapa jauh keterlibatannya. Pada akhirnya, yang sedang dijalankan bukan konsolidasi ideologi PSI, melainkan popularitas satu orang dipakai untuk menopang partai yang belum pernah berhasil berdiri sendiri di parlemen.
Wajah Kedua: Migrasi Elite Politik
Wajah kedua, migrasi elite politik, tampak dari masuknya sejumlah nama besar lintas partai seperti Ahmad Ali, mantan Wakil Ketua Umum NasDem yang kini menjabat Ketua Harian DPP PSI, tiga eks legislator DPRD Solo dari PDIP, yakni Ginda Ferachtriawan, Dyah Retno Pratiwi, dan Wawanto, yang menyeberang setelah berseberangan sikap dengan partai asal pada Pilkada Solo 2024.
Di Lampung, sejumlah mantan kepala daerah dan eks kader partai lain bahkan dijaketkan secara simbolis, disaksikan langsung oleh Jokowi.
Yang menarik perhatian saya bukan siapa saja yang pindah, melainkan alasan di baliknya. Hampir semua nama besar itu bergabung bukan karena tertarik dengan gagasan atau platform PSI, melainkan karena sudah tersingkir, berkonflik, atau tidak lagi nyaman di partai lama. Dengan kata lain, PSI tidak sedang membesarkan kader dari bawah, melainkan menampung orang-orang yang kehilangan rumah politiknya.
Baca Juga: Waspada Penipuan Daring yang Kian Marak, Kenali Modus Terbaru Agar Tak Jadi Korban
Cara ini memang cepat dalam mendongkrak jaringan dan nama besar di daerah yang sudah di bangun oleh tokoh tersebut, tapi menurut saya rapuh secara fondasi loyalitas yang dibangun di atas kekecewaan terhadap partai lama jauh lebih mudah goyah ketimbang loyalitas yang lahir dari kesamaan ideologi.
Begitu tekanan politik berubah, kelompok migran ini berpotensi berpindah lagi ke partai lain yang menawarkan panggung lebih baik.
Wajah Ketiga: Popularitas Instan Lewat Artis
Wajah ketiga adalah rekrutmen artis dan figur publik populer. seperti yang lagi diberitakan komedian Narji, yang sebelumnya berkiprah di PKS, resmi bergabung dengan PSI awal Juli 2026, Adapun juga nama-nama seperti Badai Kerispatih dan Mongol Stres.
Menurut saya, strategi ini paling mudah dipahami tapi juga paling rapuh dari ketiga wajah PSI.
Popularitas artis memang bisa langsung berdampak pada partai di media dan media sosial, sesuatu yang sulit dicapai lewat kerja kaderisasi konvensional. Namun modal itu bersifat pribadi, bukan institusional karena penonton dan penggemar mengikuti sang figur, bukan mengikuti PSI.
Begitu figur itu meredup tentu akan pindah panggung, atau justru menimbulkan kontroversi, partai tidak punya basis ideologis untuk menahan pemilih yang selama ini hanya terikat oleh sosok, bukan oleh gagasan. Ini yang menurut saya sering luput dari perhitungan partai-partai yang tergoda memakai jalan pintas serupa.
Mesin Elektoral Instan, Tapi Sampai Kapan?
Ketiga wajah ini, bagi saya, menunjukkan satu benang merah yang sama ketika PSI mulai membangun mesin elektoral instan lewat pinjaman modal sosial orang lain, bukan lewat konsolidasi ideologis dari bawah. Popularitas Jokowi menutup defisit elektabilitas, jaringan elite migran mempercepat perluasan struktur, dan wajah artis menjaga eksposur media.
Ketiganya efektif untuk jangka pendek, tepatnya untuk satu kali putaran pemilu, tetapi tidak satu pun dari ketiganya membangun sesuatu yang benar-benar dimiliki PSI sendiri yaitu pada basis massa yang loyal karena gagasan, bukan karena pinjaman nama besar orang lain.
Pertanyaan yang menurut saya lebih penting daripada sekadar apakah PSI lolos ke DPR pada 2029, tapi apa yang tersisa dari partai ini ketika Jokowi berhenti berkeliling, elite migran kembali berpindah haluan, dan artis-artisnya sibuk dengan karier masing-masing? Jika jawabannya kosong, maka strategi tiga wajah ini bukan fondasi jangka panjang, melainkan sekadar tabungan elektoral yang akan habis begitu dicairkan sekali.
Penulis: Dwi Prasetya Budi.
Editor : Imron Arlado