JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di tengah pesatnya pembangunan kawasan industri di Jawa Timur, kebutuhan akan bangunan yang aman, andal, dan memenuhi ketentuan hukum semakin menjadi perhatian. Namun, di balik berdirinya sebuah pabrik, rumah sakit, atau pergudangan, masih banyak pelaku usaha yang memandang Sertifikat Laik Fungsi (SLF) hanya sebagai kewajiban administratif. Bagi M. Fuad Arisuddin, pandangan tersebut perlu diubah.
Sebagai pendiri Athariz Building, Fuad memilih membangun bisnis yang berangkat dari sebuah nilai sederhana: kepercayaan adalah fondasi utama sebuah konsultan. Menurutnya, seorang konsultan bukan sekadar penyedia jasa, melainkan mitra strategis yang membantu pemilik bangunan memastikan bahwa setiap aset yang dimiliki benar-benar aman untuk digunakan serta memenuhi seluruh ketentuan yang berlaku.
Perjalanan Fuad di dunia konsultansi bukanlah sesuatu yang instan. Lebih dari lima tahun ia mendalami audit dan pemeriksaan bangunan gedung, didukung pengalaman lebih dari satu dekade dalam dunia bisnis. Kombinasi tersebut membentuk cara pandangnya bahwa solusi teknis harus selalu disertai pemahaman terhadap kebutuhan bisnis klien.
Melalui Athariz Building, ia memfokuskan layanan pada audit teknis dan pendampingan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) untuk bangunan industri, rumah sakit, pabrik, pergudangan, hingga bangunan komersial di berbagai wilayah Jawa Timur. Baginya, setiap proyek bukan sekadar pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi sebuah tanggung jawab untuk menjaga keselamatan manusia yang beraktivitas di dalamnya.
Fuad percaya bahwa peluang terbesar dalam bisnis konsultansi bukan berasal dari banyaknya proyek, melainkan dari tingkat kepercayaan yang berhasil dibangun. Kepercayaan lahir dari integritas, kompetensi, dan keberanian menyampaikan kondisi bangunan secara objektif.
Baca Juga: Tren Baby Care di Mojokerto, Treatment Panggilan Bikin Nyaman Momy
Seorang konsultan harus mampu mengatakan bahwa sebuah bangunan belum memenuhi standar apabila memang demikian, sekalipun keputusan tersebut tidak selalu mudah diterima. Integritas seperti inilah yang menjadi identitas Athariz Building.
Di tengah berkembangnya sektor industri nasional, kebutuhan akan layanan konsultansi yang profesional akan terus meningkat. Regulasi semakin berkembang, standar keselamatan semakin ketat, dan dunia usaha dituntut semakin bertanggung jawab terhadap aset yang dimiliki. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi profesi konsultan, tetapi sekaligus menuntut hadirnya sumber daya manusia yang kompeten dan memiliki etika profesi yang kuat.
Fuad meyakini bahwa masa depan bisnis konsultansi tidak lagi ditentukan oleh siapa yang menawarkan harga paling murah, melainkan oleh siapa yang mampu memberikan nilai tambah melalui solusi yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, ia terus mendorong Athariz Building untuk menjadi perusahaan yang tidak hanya menyelesaikan dokumen, tetapi juga membangun budaya keselamatan, kepatuhan terhadap regulasi, dan keberlanjutan dalam pengelolaan bangunan.
Bagi Fuad, keberhasilan bukanlah ketika sebuah proyek selesai dikerjakan, melainkan ketika bangunan yang telah diaudit mampu beroperasi dengan aman, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan menjadi aset yang bernilai dalam jangka panjang.
Filosofi tersebut menjadi kompas dalam setiap langkah bisnis yang dijalankannya. ’’Dalam dunia konsultansi, integritaslah yang membuat orang terus kembali mempercayakan pekerjaannya kepada kita,’’ ujar Fuad.
Prinsip itulah yang terus dijaga oleh M. Fuad Arisuddin dalam membangun Athariz Building. Sebab pada akhirnya, bisnis yang bertahan bukan hanya bisnis yang menghasilkan keuntungan, melainkan bisnis yang mampu menghadirkan manfaat, menjaga kepercayaan, dan meninggalkan jejak profesionalisme bagi industri yang dilayaninya. (ron/fen)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto