Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Peran Perguruan Tinggi Dalam Membentuk Karakter Kewirausahaan Santri

Fendy Hermansyah • Jumat, 24 April 2026 | 03:52 WIB
Revandra Fikka Aidila Fathir, Raka Bima Hafidzalloh, Bintang Maulana Dzaky, dan Dafka Abybka Catur Baihaqi, 9 Social Class MTs Nurul Islam Mojokerto. Pembimbing: Siti Kholifaturosida, S.Pd.
Revandra Fikka Aidila Fathir, Raka Bima Hafidzalloh, Bintang Maulana Dzaky, dan Dafka Abybka Catur Baihaqi, 9 Social Class MTs Nurul Islam Mojokerto. Pembimbing: Siti Kholifaturosida, S.Pd.

Oleh: Revandra Fikka Aidila Fathir, Raka Bima Hafidzalloh, Bintang Maulana Dzaky, dan Dafka Abybka Catur Baihaqi

9 Social Class MTs Nurul Islam Mojokerto

Pembimbing: Siti Kholifaturosida, S.Pd.

PENDIDIKAN merupakan usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar serta proses pembelajaran agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah upaya sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran agar peserta didik mampu mengembangkan kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Beberapa ahli juga memberikan pengertian tentang pendidikan. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah tuntunan dalam proses tumbuh kembang anak. Sementara itu, John Dewey berpendapat bahwa pendidikan merupakan proses pembentukan kemampuan dasar, baik secara intelektual maupun emosional, yang berkaitan dengan alam dan sesama manusia.

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan tidak hanya sekadar proses penyampaian ilmu di sekolah, tetapi juga sebagai usaha sadar untuk mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, cerdas, berkarakter, serta mampu memberikan kontribusi bagi lingkungannya.

Di Indonesia terdapat beberapa jenjang pendidikan yang ditempuh oleh anak-anak. Pada tingkat awal ada PAUD, TK, dan Sekolah Dasar, di mana siswa diberikan pelajaran dasar sebagai landasan berpikir. Kemudian dilanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pada jenjang menengah ini, siswa mulai diarahkan untuk menentukan pilihan dan cita-cita yang ingin dicapai di masa depan.

Jenjang berikutnya adalah perguruan tinggi, di mana mahasiswa dapat mengembangkan dan meningkatkan bakat yang dimiliki. Perguruan tinggi juga berperan dalam mencetak calon guru yang berkualitas, yang tidak hanya memberikan ilmu tetapi juga membentuk karakter peserta didik. Karakter sendiri merupakan kebiasaan dalam melakukan suatu tindakan, salah satunya adalah karakter kewirausahaan. Karakter ini dapat ditanamkan kepada siswa yang memiliki minat dan kemampuan di bidang kewirausahaan melalui berbagai kegiatan usaha yang difasilitasi oleh lembaga.

Dalam agama Islam, Rasulullah dikenal sebagai seorang wirausaha yang sukses pada masanya. Penyebaran agama Islam juga dilakukan melalui kegiatan usaha yang menjunjung tinggi kejujuran dan tidak melakukan kecurangan. Dalam pembentukan karakter kewirausahaan santri, tidak cukup hanya dengan teori di dalam kelas, tetapi perlu dikombinasikan dengan praktik langsung, seperti piket menjaga koperasi, mengelola kantin, serta mengikuti pelatihan yang ada di lingkungan pesantren.

Salah satu contohnya adalah di Pondok Pesantren Nurul Islam yang memiliki lembaga formal, diniyah, dan kewirausahaan. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa para guru atau ustaz memberikan pembelajaran secara langsung terkait manajemen keuangan serta melakukan pengawasan terhadap santri agar tetap tekun dalam menjalankan usaha.

Selain itu, diberikan juga sanksi atau denda bagi santri yang melanggar aturan. Para guru juga menekankan pentingnya bersikap ramah dan jujur dalam berjualan serta tidak melakukan kecurangan, karena nilai-nilai tersebut telah lama diterapkan dalam membentuk karakter kewirausahaan santri. (*)

Editor : Fendy Hermansyah
#mts 2 nurul islam mojokerto #opini guru #ponpes nurul islam #opini radar mojokerto #opini siswa