Oleh: Maulana Qolby Alghifari, Mohamad Hafiz Choirulloh, Moch. Nasrul Alamin H, dan Muhammad Assadidul Hakim
9 Social Class MTs Nurul Islam Mojokerto
Pembimbing: Siti Kholifaturosida, S.Pd.
KECANDUAN gadget menjadi salah satu tantangan besar dalam pengasuhan di era digital. Anak usia dini dan remaja yang terlalu bergantung pada gadget biasanya mengalami hambatan dalam perkembangan bahasa, motorik, sosial-emosional, bahkan prestasi akademik. Hal ini menunjukkan perlunya pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak penggunaan gadget. Di zaman modern seperti sekarang, teknologi berkembang sangat pesat di berbagai negara dan sangat memengaruhi kehidupan sehari-hari, sehingga membuat manusia semakin bergantung pada teknologi.
Di Indonesia, gadget banyak digunakan terutama oleh remaja dan anak-anak. Mereka sering memakainya secara berlebihan untuk bermain game online, mengirim pesan, dan berbagai aktivitas lainnya. Penggunaan yang tidak terkontrol ini akhirnya menimbulkan kecanduan.
Dampak gadget sendiri ada yang bersifat positif dan negatif. Dari sisi positif, gadget memudahkan komunikasi dengan orang lain, baik di luar Pulau Jawa maupun antarnegara. Selain itu, gadget juga mempermudah aktivitas seperti berbelanja secara online tanpa batas waktu dan tempat. Gadget juga menjadi sarana untuk mencari informasi, termasuk melalui teknologi kecerdasan buatan yang terus berkembang saat ini. Namun, di sisi lain, gadget juga dapat menimbulkan dampak negatif, seperti ketergantungan dan mudahnya terpengaruh oleh hal-hal buruk di media sosial.
Di era digital ini, masyarakat Indonesia dari anak-anak hingga orang dewasa sudah banyak yang bergantung pada gadget dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini terutama terlihat pada remaja dan anak usia dini yang sering menggunakan gadget. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah untuk mencegah kecanduan, seperti membatasi waktu penggunaan gadget dan tidak menggunakannya jika tidak diperlukan.
Peran orang tua sangat penting dalam mengatasi hal ini, misalnya dengan membatasi waktu penggunaan atau menunda pemberian gadget sampai anak mencapai usia tertentu. Jika anak sudah terbiasa memegang gadget, mereka cenderung fokus pada perangkat tersebut dan kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Hal ini juga berdampak pada kehidupan sosial anak, seperti berkurangnya interaksi dengan teman sebaya karena lebih memilih bermain gadget. Bahkan, saat berkumpul sekalipun, mereka sering tidak berinteraksi secara langsung, melainkan sibuk bermain game online bersama atau yang sering disebut “mabar”.
Kecanduan gadget ini membuat nilai-nilai sosial dalam interaksi langsung semakin berkurang. Selain itu, kondisi ini juga berdampak pada kelestarian permainan tradisional. Jika anak-anak lebih sering menggunakan gadget, permainan tradisional akan semakin jarang dimainkan dan bisa terancam hilang. Akibatnya, generasi mendatang mungkin tidak lagi mengenal kekayaan budaya berupa permainan tradisional Indonesia.
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat, mereka mengakui bahwa gadget memang memudahkan pekerjaan. Salah satu narasumber, Prasetya, menyatakan bahwa gadget memiliki banyak manfaat, seperti menghasilkan uang melalui pekerjaan online, mengisi waktu luang dengan bermain game, dan menambah pengetahuan melalui pembelajaran berbasis kecerdasan buatan seperti Gemini AI. Namun, ia juga menyadari adanya dampak negatif, yaitu membuat seseorang menjadi malas belajar karena lebih tertarik bermain dan akhirnya mengabaikan tanggung jawab atau tugas yang seharusnya diselesaikan. (*)
Editor : Fendy Hermansyah