Oleh: Fevarine Weka Adina Putri, M.Psi*
FENOMENA yang belakangan menyita perhatian publik adalah peristiwa kekerasan yang menimpa seorang ibu dan anaknya akibat tindakan sewenang-wenang dari seorang oknum. Video yang viral di media sosial memperlihatkan seorang ibu menjadi sasaran caci maki hingga kekerasan fisik hanya karena kesalahpahaman sepele.
Ironisnya, kekerasan tersebut tidak hanya ditujukan kepada sang ibu, tetapi juga kepada anak laki-lakinya yang sama sekali tidak terlibat dalam konflik. Peristiwa ini menjadi potret memprihatinkan bagaimana konflik kecil dapat berkembang menjadi tindakan agresif yang melibatkan pihak paling rentan, yakni anak-anak. Dampak langsung terlihat jelas, anak tersebut mengalami syok dan ketakutan, kondisi yang tidak seharusnya dialami pada fase perkembangan mereka.
Keterlibatan anak dalam konflik semacam ini patut disayangkan, mengingat kondisi psikologis anak yang masih dalam tahap perkembangan dan belum stabil secara emosional. Dalam perspektif psikologi, kekerasan fisik terhadap anak memiliki dampak yang serius dan berpotensi menimbulkan efek jangka panjang apabila tidak segera ditangani. Dampaknya bersifat multidimensional, mencakup aspek psikologis, perilaku, hingga kesehatan. Secara psikologis, anak berisiko mengalami trauma atau gangguan stres pascatrauma (PTSD), yang dapat ditandai dengan hypervigilance (kewaspadaan berlebih), kecemasan, depresi, serta penurunan harga diri.
Dari sisi perilaku, anak dapat menunjukkan kesulitan dalam meregulasi emosi, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga menampilkan perilaku agresif. Beragam dampak ini menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak bukan sekadar insiden sesaat, melainkan persoalan serius yang membutuhkan perhatian dan penanganan segera.
Penanganan terhadap dampak kekerasan pada anak tidak boleh dipandang sebagai formalitas belaka, melainkan sebagai langkah krusial untuk mencegah dampak psikologis berkepanjangan. Konsekuensi jangka panjang dari kekerasan dapat memengaruhi kesehatan mental serta kualitas kehidupan anak di masa depan. Oleh karena itu, penanganan harus dilakukan secara komprehensif, berfokus pada pemulihan trauma, serta melibatkan berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga tenaga profesional.
Intervensi seperti terapi psikologis dan konseling berkala menjadi upaya penting dalam membantu anak memulihkan kondisi emosionalnya. Keterlibatan pihak-pihak yang kompeten sangat diperlukan agar anak korban kekerasan dapat kembali memperoleh rasa aman, membangun kembali kesehatan mentalnya, dan melanjutkan kehidupan dengan lebih kuat di masa depan. (*)
*) Pemerhati anak dan psikolog Mojokerto
Editor : Fendy Hermansyah