Kepala Desa Ngrowo
SOSOK perempuan yang kerap di sapa Bunda Lurah di Desa Ngrowo ini sangat luar biasa dalam menjalankan pemerintahannya selama 2016 silam. Meskipun perempuan, tapi terkait kerjaan dan kinerja selama menjabat sebagai kepala desa hingga sekarang tidak kalah dengan sosok laki-laki. ’’Meskipun perempuan, namun tanggung jawab dan kinerja sama dengan laki-laki,’’ kata Kepala Desa Ngrowo, Siti Maidah.
Bunda Lurah sapaan akrabnya ini mempunyai keinginan yang mulia. Yakni mengharapkan semua masyarakatnya bisa saling berkomunikasi, pembangunan merata dan warganya bisa hidup sehat dan makmur. Menurutnya, dulu komunikasi warga antar dusun sangat jauh dan hampir tidak kenal. Namun, dengan berjalannya waktu, komunikasi sekarang malah lebih intens. ’’Memang kami mempunyai program tersendiri untuk mengatasi itu semuanya,’’ ujarnya.
Yakni melalui pengajian istighosah tiap sebulan sekali, khataman Al-Qur’an tiap Jumat legi. ’’Jadi kita ambil kan dari 1 Desa dengan perwakilan 6 RW kita ambil 2 orang/RW. Jadi kita mengumpulkan para ustadz dan ustadzah penghafal Al-Qur’an. Dengan adanya khataman ini, kita bisa mengetahui di Desa Ngrowo tersendiri ada sekitar 10 orang penghafal Al-Qur’an,’’ katanya.
Selain itu, lanjut Bunda Lurah, bersama perangkat selalu keliling ke petani saat musim tanam. Ini menjadi salah satu langkah untuk mendekatkan diri kepada para petani dan buruh tani. ’’Kami selalu ikut kenduren, ini salah satu cara efektif untuk bertemu dan mengerti keluh kesah mereka,’’ tegasnya.
Di samping itu, pihaknya juga sangat peduli kepada dunia pendidikan, baik formal dan keagamaan. ’’Memang tiap bulan kami juga memberikan dana stimulan didunia pendidikan yang ada di Desa Ngrowo, baik TPQ, RA, PAUD bahkan Pramuka,’’ imbuhnya.
Bunda Lurah menambahkan, memang kita sebagai perempuan harus pandai-pandai bersosialisasi apalagi sebagai kepala desa. ’’Kita bergaul dengan dasar emansipasi, kekeluargaan, supaya tidak ada masalah karena antara perempuan dan laki-laki cara bergaulnya itu berbeda,’’ ungkapnya.
Hingga sekarang, yang dilakukan untuk terus berkomunikasi dengan warganya yakni melakukan beberapa hal. ’’Yang saya lakukan hanya bermodal silaturahmi, rokok dan kopi,’’ bebernya.
Tiap hari, dirinya selalu keliling ngopi bersama warga dan pulangnya selalu tengah malam. Ternyata dengan rokok dan kopi kita bisa mengerti beberapa persoalan yang ada di Desa.
’’Inginnya bapak-bapak ini bisa fair ngomong terkait persoalan mereka yang ada di Desa kepada saya. Di manapun berada, di sepeda motor selalu ada rokok. Ternyata rokok itu penghubung kita berkomunikasi dengan baik. Bapak-bapak itu tidak sungkan. Jadi rokok itu ada hikmah yang luar biasa bagi saya,’’ pungkas perempuan kelahiran 1968 ini. (dik/fen)
Editor : Fendy Hermansyah