Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Peran Waka Kesiswaan di MTs 2 Nurul Islam dalam Membentuk Sikap Kedisiplinan Santri

Indah Oceananda • Sabtu, 18 April 2026 | 03:03 WIB

 

Fildza Lidya Khairunnisa dan Nur Inayatul Falakhiyah, 9 Social Class MTs 2 Nurul Islam Mojokerto.
Fildza Lidya Khairunnisa dan Nur Inayatul Falakhiyah, 9 Social Class MTs 2 Nurul Islam Mojokerto.

 

Oleh: Fildza Lidya Khairunnisa dan Nur Inayatul Falakhiyah *)

*) 9 Social Class MTs 2 Nurul Islam Mojokerto

Pembimbing: Inayatu Khoirul Magfiroh, M.Pd

PERAN Waka Kesiswaan di MTs 2 Nurul Islam sangat penting dalam membentuk sikap disiplin santri. Waka Kesiswaan bertugas mengatur, membimbing, dan mengarahkan perilaku santri agar sesuai dengan aturan madrasah. Melalui sosialisasi tentang pentingnya akhlakul karimah, adab, dan kedisiplinan, santri dibiasakan untuk taat aturan. 

Seperti memakai atribut lengkap, tidak terlambat, dan bersikap sopan selama kegiatan belajar. Tujuan utamanya adalah agar santri menjadi lebih baik, disiplin, dan memiliki karakter yang baik.

Dalam kenyataannya, masih ada beberapa santri yang melanggar aturan, seperti tidak memakai atribut lengkap, membuat keributan di kelas, atau mengganggu teman saat pelajaran berlangsung. Hal ini membuat proses belajar menjadi kurang kondusif. Oleh karena itu, Waka Kesiswaan ikut turun tangan untuk menangani masalah tersebut, karena kedisiplinan bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi juga tanggung jawab bersama di lingkungan madrasah. 

Untuk membentuk sikap disiplin, Waka Kesiswaan menggunakan beberapa cara. Pertama, pendekatan preventif, yaitu dengan memberikan nasihat, bimbingan, dan arahan kepada santri agar tidak melakukan pelanggaran. Selain itu, kegiatan keagamaan juga digunakan untuk menanamkan nilai-nilai disiplin dan akhlak yang baik. Kedua, pendekatan represif, yaitu dengan memberikan sanksi atau hukuman kepada santri yang melanggar aturan. Hukuman ini bertujuan agar santri jera dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. 

Berdasarkan hasil wawancara, Waka Kesiswaan menjalankan tugasnya dengan ikhlas tanpa banyak keluhan. Masa jabatan sekitar tiga sampai lima tahun membantu dalam menjalankan program pembinaan dengan lebih maksimal. Dalam menghadapi santri yang bermasalah, langkah yang dilakukan tidak hanya memberi hukuman, tetapi juga memberikan bimbingan konseling dan nasihat agar santri bisa memperbaiki diri. 

Kedisiplinan sangat penting bagi santri, karena pendidikan tidak hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang pembentukan akhlak dan kepribadian. Oleh karena itu, sikap disiplin harus terus ditingkatkan sesuai dengan kondisi lingkungan madrasah. Keberhasilan dalam membentuk disiplin sangat bergantung pada kerja sama antara Waka Kesiswaan, guru, santri, dan orang tua. 

Secara keseluruhan, Waka Kesiswaan memiliki peran besar dalam membentuk kedisiplinan santri di MTs 2 Nurul Islam. Dengan pembinaan yang terus dilakukan, aturan yang tegas, serta contoh yang baik dari guru, diharapkan santri dapat menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak baik. (*)

  

Editor : Fendy Hermansyah
#mts 2 nurul islam mojokerto #ponpes nurul islam #opini radar mojokerto #opini siswa #Ponpes Nuris Mojokerto