Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Pondok Pesantren sebagai Laboratorium Karakter Membangun Kedisiplinan dan Kemandirian Santri

Indah Oceananda • Sabtu, 18 April 2026 | 03:01 WIB
Ahmad Rifa’i Ilyas, Maulana Wisam Syauqi, Muhammad Kevin Ardinata, Sabian Ahmad Alfahrizi, dan Tegar Iman Ababil, 9 Social Class SMP Unggulan Berbasis Al-Qur’an Nurul Islam Mojokerto
Ahmad Rifa’i Ilyas, Maulana Wisam Syauqi, Muhammad Kevin Ardinata, Sabian Ahmad Alfahrizi, dan Tegar Iman Ababil, 9 Social Class SMP Unggulan Berbasis Al-Qur’an Nurul Islam Mojokerto

 

Oleh: Ahmad Rifa’i Ilyas, Maulana Wisam Syauqi, Muhammad Kevin Ardinata, Sabian Ahmad Alfahrizi, dan Tegar Iman Ababil *)

*) 9 Social Class SMP Unggulan Berbasis Al-Qur’an Nurul Islam Mojokerto

Pembimbing: Cyndi Eka Widyawati, M.Pd

DI era globalisasi, banyak remaja di luar lingkungan pesantren yang terpengaruh pergaulan bebas. Hal ini berdampak pada menurunnya kedisiplinan, seperti sering meremehkan hal-hal kecil yang sebenarnya penting, misalnya tidak tepat waktu dalam makan, mandi, atau berangkat sekolah. 

Perilaku seperti ini tentu membuat orang tua menjadi khawatir dan merasa terbebani. Dalam kondisi seperti ini, pondok pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter remaja agar menjadi lebih baik. Melalui berbagai program yang diterapkan, pesantren dapat membantu orang tua dalam mendidik anak agar lebih disiplin dan terarah. 

Di pondok pesantren, santri tidak hanya belajar ilmu pengetahuan umum dan agama, tetapi juga dibiasakan memiliki sikap disiplin dan mandiri. Sejak dini, santri dilatih untuk mengurus diri sendiri, sehingga karakter kemandirian dan kedisiplinan dapat tertanam dalam diri mereka. Di Pondok Pesantren Nurul Islam, aktivitas santri sangat padat, mulai dari sekolah formal, madrasah diniyah, hingga kegiatan takror (mengulang pelajaran). Semua kegiatan ini bertujuan agar santri mampu mengatur waktu dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. 

Kedisiplinan di pesantren dibentuk melalui pengaturan waktu yang terstruktur, mulai dari bangun sebelum subuh hingga kembali tidur di malam hari. Seluruh aktivitas santri telah dijadwalkan dengan rapi. Kebiasaan salat berjamaah menjadi dasar utama dalam melatih disiplin waktu, karena santri dibiasakan melaksanakan salat tepat waktu secara bersama-sama. Selain itu, adanya peraturan yang tegas disertai sanksi membuat santri belajar bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan. Lingkungan asrama yang kondusif juga mendorong santri untuk saling menjaga dan patuh terhadap aturan, sehingga kedisiplinan menjadi kebiasaan bersama. 

Kemandirian santri juga tumbuh karena mereka harus menjalani kehidupan tanpa bergantung pada orang tua. Di pesantren, santri belajar untuk lebih dewasa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka terbiasa mengatur waktu, mencuci pakaian sendiri, mengelola keuangan, serta belajar secara mandiri. Selain itu, pesantren juga mulai menanamkan jiwa kewirausahaan, seperti melalui pengelolaan kantin atau usaha pesantren lainnya, sehingga santri memiliki mental tidak bergantung pada orang lain. Dalam kehidupan bersama, santri juga dilatih untuk menyelesaikan masalah secara mandiri dan bertanggung jawab ketika terjadi konflik dengan teman. 

Pondok Pesantren Nurul Islam terbukti menjadi tempat pembentukan karakter yang efektif dalam menanamkan kedisiplinan dan kemandirian melalui pendidikan selama 24 jam. Pendekatan yang digunakan meliputi, keteladanan, pembiasaan, serta penerapan aturan yang konsisten. Dengan cara ini, santri dibentuk menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan berakhlakul karimah. Kedisiplinan dan kemandirian tersebut menjadi bekal penting bagi santri dalam menghadapi kehidupan modern yang dinamis dan penuh persaingan. 

Selain itu, untuk menjaga ketertiban aktivitas harian santri, pesantren juga membentuk lembaga kepengurusan santri yang bertugas mengatur berbagai aspek kehidupan di pesantren. Kepengurusan ini dibagi ke dalam beberapa divisi seperti keamanan, pendidikan, kebersihan, dan lainnya. Setiap divisi memiliki tugas masing-masing sehingga kegiatan santri dapat berjalan dengan tertib, teratur, dan terkontrol dengan baik. (*)

 

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#ponpes nurul islam #opini radar mojokerto #opini siswa #Ponpes Nuris Mojokerto