Oleh: Abdur Rohim El Syarif, Andhika Putra Hermawan, Moch. Andhika Hafiz, Mochamad Fadhil Aziz, Rahmad Amrul Aliyuddin, dan Rizky Amaludin Afriyanto*)
*) Siswa 9 Social Class SMP Unggulan Berbasis Al-Qur’an Nurul Islam Mojokerto
Pembimbing: Cyndi Eka Widyawati, M.Pd
PONDOK pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki akar tradisi yang kuat. Pembelajaran di pesantren identik dengan kegiatan mengaji kitab kuning, kitab akhlak, kitab tauhid, dan kitab-kitab lainnya. Namun, seiring perkembangan zaman, pesantren mulai berinovasi dengan mengombinasikan sistem pembelajaran tradisional dan modern.
Seperti yang diterapkan di Pondok Pesantren Nurul Islam Mojokerto, yang menggunakan dua metode pembelajaran, yaitu tradisional (madin) dan modern (formal). Hal ini membuat santri tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu umum, sehingga mampu bersaing di era globalisasi.
Perpaduan antara sistem tradisional dan modern ini memberikan dampak positif dalam pembentukan karakter santri. Nilai-nilai keislaman seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan akhlak mulia tetap menjadi dasar utama, sementara pengetahuan umum dan keterampilan dikembangkan melalui pendidikan formal. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi pusat pembelajaran agama, tetapi juga mampu mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Tradisi dan modernitas sering dianggap saling bertentangan, di mana tradisi dipandang sebagai warisan nilai dan budaya, sedangkan modernitas sebagai bentuk perubahan dan inovasi. Namun, di Pondok Pesantren Nurul Islam 2, keduanya justru saling melengkapi. Tradisi tetap dijaga sebagai nilai dasar, sementara modernitas hadir melalui inovasi dalam pendidikan. Pendidikan formal menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya, sehingga santri dapat mempelajari ilmu agama sekaligus ilmu umum.
Salah satu program unggulan yang mendukung hal ini adalah Expert Class (kelas keunggulan). Dalam program ini, terdapat berbagai bidang pembelajaran seperti kelas sosial yang membahas geografi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah; kelas matematika dan sains yang mendalami biologi, kimia, fisika, dan astronomi; kelas kutubut turots Islami yang fokus pada pemahaman kitab kuning dan cara membaca kitab gundul yang dipadukan dengan ilmu umum; serta dirosah Islamiyah yang mempelajari hadis dan Alquran untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai perkembangan zaman.
Selain itu, terdapat kelas bilingual yang mengajarkan bahasa asing berbasis keagamaan, serta International Class Program yang menggabungkan pembelajaran bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia dengan ilmu sains dan matematika bertaraf global.
Di sisi lain, tradisi pesantren tetap dijalankan setiap hari, seperti kegiatan roan atau kerja bakti membersihkan lingkungan dengan ikhlas, takror atau mengulang pelajaran untuk memperdalam pemahaman, mengaji kitab kuning yang mencakup fiqih, tauhid, dan akhlak, serta salat berjamaah yang dilengkapi dengan wirid dan doa. Semua kegiatan ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter santri.
Dengan adanya pendidikan formal di Pondok Pesantren Nurul Islam 2, tradisi tidak ditinggalkan, melainkan dipadukan dengan modernitas secara kreatif. Hasilnya adalah sistem pendidikan yang menyeluruh, yang tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual, tetapi juga memperkuat spiritual santri. Dengan cara ini, pesantren mampu menjadi lembaga yang adaptif terhadap perkembangan zaman, tetap menjaga nilai-nilai Islam, serta mencetak generasi yang modern namun tetap berkarakter tradisional. (*)
Editor : Fendy Hermansyah