Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Analisis Pedagang Batagor di Sekitar Pondok Pesantren Nurul Islam 2 dan Dampak Ekonomi bagi Keluarganya

Sofan Kurniawan • Kamis, 16 April 2026 | 17:47 WIB
Serrly Maulidiyah Salmah dan Bilkeys Aureilia Prayitno, 9 Social Class MTs 2 Nurul Islam Mojokerto dalam bimbingan Inayatu Khoirul Magfiroh, M.Pd.
Serrly Maulidiyah Salmah dan Bilkeys Aureilia Prayitno, 9 Social Class MTs 2 Nurul Islam Mojokerto dalam bimbingan Inayatu Khoirul Magfiroh, M.Pd.

 

Oleh: Serrly Maulidiyah Salmah dan Bilkeys Aureilia Prayitno*)

*) 9 Social Class MTs 2 Nurul Islam Mojokerto dalam bimbingan Inayatu Khoirul Magfiroh, M.Pd.

BATAGOR merupakan salah satu makanan khas Indonesia yang berasal dari Bandung, Jawa Barat. Makanan ini terbuat dari tahu yang dihaluskan, kemudian dibungkus dengan tepung yang telah dicampur air dan berbagai bumbu seperti macaro, lada, garam, dan merica. Setelah itu, adonan digoreng selama kurang lebih lima menit hingga berwarna kecoklatan. Batagor kemudian ditiriskan dan siap disajikan. Agar rasanya semakin nikmat, biasanya batagor disajikan dengan tambahan sambal kacang, kecap, dan potongan mentimun kecil-kecil.

Di sekitar Pondok Pesantren Nurul Islam Dua terdapat banyak pedagang yang menjual berbagai jenis makanan, namun penelitian ini difokuskan pada pedagang batagor. Hal ini karena batagor merupakan salah satu makanan yang banyak diminati oleh masyarakat. Rasanya yang gurih dan lezat membuat pembeli sering merasa ketagihan. Selain itu, harga batagor juga cukup terjangkau bagi semua kalangan, baik pelajar maupun masyarakat umum. Biasanya batagor dijual mulai dari harga dua ribu rupiah per porsi. Batagor juga cocok dijadikan camilan saat berkumpul bersama teman, mengerjakan tugas kelompok, maupun bersama keluarga.

Keberadaan pedagang batagor di sekitar pondok pesantren memberikan dampak ekonomi yang cukup baik bagi para penjual. Pendapatan yang diperoleh setiap hari bisa mencapai minimal tiga ratus ribu rupiah. Bahkan pada saat tertentu seperti waktu sambangan santri, jumlah pembeli meningkat sehingga pendapatan pedagang juga bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa usaha batagor dapat menjadi salah satu sumber penghasilan yang cukup menjanjikan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara pedagang batagor mempromosikan dagangannya serta mengetahui dampak ekonomi yang mereka peroleh. Selain itu, penelitian ini juga memberikan manfaat bagi penulis karena dapat mengetahui secara langsung proses pembuatan batagor, keuntungan yang diperoleh setiap hari, serta total pendapatan yang didapatkan. Bagi pedagang, penelitian ini bermanfaat karena menunjukkan bahwa usaha batagor dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam perkembangan zaman yang semakin modern, pola hidup masyarakat juga mengalami perubahan. Salah satunya adalah meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan siap saji seperti batagor. Hal ini membuat usaha batagor semakin berkembang dan banyak diminati. Namun, bertambahnya jumlah pedagang juga menimbulkan persaingan yang cukup ketat. Perbedaan pendapatan antar pedagang dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti lokasi, kualitas rasa, harga, serta kondisi ekonomi masyarakat yang mempengaruhi daya beli.

Batagor sendiri merupakan makanan tradisional yang tetap diminati hingga saat ini karena rasanya yang khas. Bahan utamanya yang sederhana, seperti tahu dan tepung, dipadukan dengan bumbu racikan membuat makanan ini memiliki cita rasa yang istimewa. Oleh karena itu, tidak heran jika batagor banyak disukai oleh berbagai kalangan masyarakat.

Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan studi lapangan yang dilakukan di sekitar Pondok Pesantren Nurul Islam Dua selama satu bulan, yaitu dari tanggal 2 September 2025 hingga 2 Oktober 2025. Penelitian dilakukan dengan mewawancarai seorang pedagang batagor bernama Pak Andre. Dari hasil wawancara tersebut, diketahui bahwa modal awal yang digunakan sekitar dua ratus ribu rupiah, dan dari modal tersebut dapat diperoleh pendapatan yang cukup besar.

Dalam mempromosikan dagangannya, Pak Andre menggunakan cara sederhana, yaitu dengan membuat tulisan atau banner agar masyarakat mengetahui bahwa ia berjualan batagor. Dari segi ekonomi, usaha batagor yang dijalankan mampu meningkatkan pendapatan dan membantu memenuhi kebutuhan hidupnya serta keluarganya. Selain itu, Pak Andre juga selalu menjaga kualitas dan kebersihan batagor yang dijual agar pembeli merasa puas.

Dari hasil penelitian, diketahui bahwa pendapatan Pak Andre dalam satu hari mencapai sekitar tiga ratus ribu rupiah. Jika dihitung dalam satu bulan, pendapatannya mencapai sembilan juta rupiah, dan dalam satu tahun dapat mencapai hingga seratus delapan juta rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa usaha batagor memiliki potensi ekonomi yang cukup besar apabila dikelola dengan baik.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan banyak manfaat, terutama bagi peneliti dalam memahami usaha batagor dan dampak ekonominya. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa batagor merupakan makanan sederhana yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain itu, strategi promosi yang dilakukan, seperti penggunaan banner, terbukti efektif untuk menarik perhatian pembeli. Dengan demikian, usaha batagor tidak hanya menjadi peluang bisnis yang menjanjikan, tetapi juga mampu membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi pedagang dan keluarganya. (*)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#jurnalisme warga #opini radar mojokerto #opini siswa