Oleh: H. Muttaqin, M.Ag
RAMADAN tahun ini akhirnya meninggalkan kita semua. Suka cita pasti mengiringinya. Entah suka karena segera kembali ke kebiasaan normal atau suka karena akan segera menemui puncak dari peribadatan puasa Ramadan selama satu bulan, yakni Idul Fitri.
Tentu menjadi sebuah bahan refleksi tersendiri nuansa Idul Fitri tahun ini. Keadaan ekonomi yg terus menuju perbaikan dengan segala rona-ronanya, saudara-saudara kita yg belum beruntung dari sisi ekonomi yang masih banyak, kemungkinan terjadinya perbedaan awal Syawal atau Idul Fitri 1447 Hijriah sampai dengan peristiwa religi nyepi dari saudara kita yang beragama Hindu.
Momentum di atas manakala kita mampu menyinergikan sekaligus mengonversikan dengan spirit Ramadan dengan mengoneksikan serpihan-serpihan nilai spiritual dan kearifan lokal berbasis kemanusiaan, tentu akan memunculkan dampak yang luar biasa bagi pencapaian satu titik spiritualitas yang elok. Sekaligus juga mampu memunculkan peran vital bagi pemberdayaan kemanusiaan pada sisi lain.
Prasyarat menuju ke sana tentu menjadi sebuah kemustian tersendiri. Membangun solidaritas lintas agama, membumikan moderasi beragama dengan segala implikasinya dengan menegasikan ego-ego religiusitas sempit berbasis kawan-lawan atau kompetisi secara kuantitas lebih-lebih algoritma popularitas. Mungkin di antara beberapa implementasi faktual yang bisa kita lakukan bersama.
Spirit-spirit Ramadan seperti kepeduliaan, spirit berbagi, semangat menjadi yang terbaik di sisi Allah SWT, manakala mampu kita ramu secara apik dengan nuansa Idul Fitri. Yakni, semangat takbir, tahlil, tasbih dan tahmid yang berintikan pada rasa pembebasan mutlak secara teologis tiada yang pantas disembah, ditangisi, dan dimuliakan, kecuali Tuhan sang Maha Ilahi. Tentu akan menjadi kekuatan yang maha dahsyat dalam rangka ikut mengurai dan mengurangi ruwetnya problem kemanusiaan.
Yang sering menjadi catatan kecil di sini adalah dan tentu ini sebagai langkah sublimatif menuju area ke sana harusnya ada kesadaran baru di antara kita. Khususnya untuk melakukan reorientasi secara gradual menuju implementasi secara substansial akan makna-makna simbolik dari peristiwa-peristiwa Ramadan dan juga spirit Idul Fitri tanpa harus terus menerus terjebak pada aspek rutinitas kita saat melaksanakan puasa, dan bersuka cita pada saat perayaan Idul Fitri.
Semoga spirit idul fitri betul-betul mampu mengonsolidasikan secara hakiki ritual-ritual kita selama ini biar menjadi daya ledak yang eksplosif yang berdampak pada pengarusutamaan nilai-nilai kemanusiaan kita.
Perbedaan rupa dan warna, agama, sosial, dan politik harus kita negasikan dalam suhu yang paling minus dalam kesejatian ruhani kita. Semoga semangat Idul Fitri terus mampu mengasah dan mengasuh, serta berempati pada nilai-nilai kejatian diri sebagai insan yang fitri. Selamat Hari Raya Idul Fitri, saling memaafkan di antara kita. (*)
*)Kepala Kemenag Kabupaten Mojokerto
Editor : Fendy Hermansyah