Keresahan tersebut sejatinya telah ia rasakan sejak ditugaskan pertama kali mengajar di SMKN 1 Mojokerto dari tahun 2009 sampai 2014. Saat itu, bapak satu anak ini merasa kemampuan siswa masih dititikberatkan pada bahasa Inggris pasif dan mengerjakan soal-soal. Sedangkan keaktifannya berbahasa Inggris, terutama speaking masih sangat kurang. Semula, masalah ini ia anggap juga terjadi di banyak sekolah di Indonesia.
Namun, setelah dimutasi ke SMKN 2 Mojokerto, ia mulai membuat ide untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Yakni, mewajibkan siswa mengikuti pembelajaran speaking dan diinput dalam nilai keterampilan. Di tahun pertama, penerapan baru aktif di kelas yang ia ampu. ’’Awalnya saya belum berani mengajak rekan-rekan guru yang lain. Saya menyelenggarakan program ini dua kali dalam satu semester. Yaitu, menjelang UTS dan UAS,’’ ungkapnya.
Setelah setahun berjalan, ternyata programnya mulai menunjukkan hasil. Di mana, siswa semakin terbiasa dengan speaking English, bahkan kemampuannya terus berkembang dari semester ke semester. Rasa percaya diri siswa juga semakin meningkat. Di situlah, suami dari Chusnul Chotimah ini berani mengajak dan mengomunikasikan program speaking kepada rekan-rekan guru bahasa Inggris lainnya.
’’Kebetulan saya menjadi penanggung jawab mata pelajaran sehingga lebih bisa mengoordinasikan program ini. Karena selain untuk mengembangkan kemampuan speaking siswa, program ini juga bisa mengembangkan karakter siswa. Semisal, rasa percaya diri dan disiplin,’’ tandas warga Perum Griya Permata Meri (GPM, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan ini.
Cara ini sekaligus sebagai solusi atas satu permasalahan besar bagi lulusan SMK. Yakni, ketidakmampuan menyampaikan skill-nya, utamanya di depan pimpinan perusahaan besar. Menurutnya, skill siswa SMK kini sudah tak diragukan lagi. Akan tetapi, saat mereka mencoba masuk di dunia industri, kebanyakan justru mengalami kegagalan. Hal ini karena siswa SMK kurang dibekali cara berkomunikasi yang baik. ’’Karena public speaking-nya lemah sehingga sering gagal di tahap wawancara saat proses rekrutmen kerja,’’ imbuhnya.
Untuk itu, Rahmat kini turut mewajibkan program speaking di semua kelas. Sehingga kemampuan siswa berbicara bahasa Inggris kian terasah. Selain itu, kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi di depan umum turut berkembang. Atas capaian itu, ia berharap program ini bisa diterapkan di semua sekolah kejuruan.
Dengan demikian, siswa SMK tidak hanya ahli di bidang kejuruan, tapi juga mampu berbicara di depan umum dengan baik. ’’Kami juga mengambil beberapa video ketika siswa praktik speaking lalu kami upload di Youtube. Video-video ini bisa ditonton oleh siswa lain dan menjadi referensi video pembelajaran untuk praktik speaking,’’ pungkasnya. (far/ris)
Editor : Fendy Hermansyah