INDIVIDU pegiat lingkungan satu ini mungkin tidak asing di kalangan Mojokerto Raya. Ya, Sisyantoko, pegiat lingkungan asal Trawas, di penghujung tahun 2025 lalu berhasil meraih penghargaan Jatim Environment Community Award (JECA) yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara yang berlangsung di Gedung Graha Wisata Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Rabu (24/12). ’’Iya, itu benar. Waktu itu meraih penghargaan di kategori PFLH (Pelestari Fungsi Lingkungan Hidup),’’ kata Sisyantoko kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.
Cak Toko, sapaan akrabnya, mengatakan Penghargaan JECA 2025 diberikan kepada para pegiat lingkungan di wilayah Provinsi Jawa Timur yang berhasil menunjukkan dedikasi dan inovasi dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Dengan banyaknya peraih penghargaan di bidang lingkungan hidup, khususnya di Kabupaten Mojokerto, ia berharap ke depan dapat terjalin sinergi yang lebih kuat. ’’Semoga ke depannya kawan-kawan yang juga mendapat penghargaan bisa saling membantu dan menopang untuk memajukan Kabupaten Mojokerto terkait pengelolaan lingkungan, termasuk sampah,’’ ujarnya.
Pegiat lingkungan yang baru saja menginjak usia 52 tahun pada Desember lalu ini dikenal sangat konsen, peduli, sekaligus prihatin terhadap berbagai isu lingkungan. Mulai dari pengelolaan sampah, pembenahan sumber mata air, penanaman pohon, hingga edukasi lingkungan terus ia gaungkan. ’’Saya berharap semua orang bisa terpanggil, peduli, dan saling menjaga lingkungan dengan aksi nyata, baik dalam skala rumah tangga hingga skala besar,’’ tandas Cak Toko.
Pihaknya menjelaskan, dasar dan motivasinya terjun dalam pengelolaan lingkungan sejatinya sangat sederhana. Menurutnya, masih belum banyak pihak yang benar-benar bergerak atau terpanggil untuk menyelamatkan lingkungan. Melalui Wehasta, ia kemudian mencoba menurunkan poin-poin penting terkait isu lingkungan hidup. ’’Banyak persoalan yang berkaitan dengan lingkungan. Dari persoalan itu, saya justru termotivasi untuk ikut mencari penyelesaian. Meskipun penyelesaiannya baru di kisaran 50 persen, setidaknya kami bisa menjadi garda terdepan dalam pengelolaan lingkungan dan mendorong kawan-kawan lain ikut peduli,’’ terangnya.
Ia berharap program pengelolaan lingkungan, terutama pengolahan sampah-yang menjadi fokus terkuat-dapat terus berkembang. Baik melalui bank sampah maupun pengolahan sampah di TPS3R. Tidak hanya di Mojokerto, karena program yang dijalankannya sebenarnya telah menjangkau lima daerah, yakni Mojokerto, Jombang, Surabaya, Gresik, dan Pasuruan. ’’Intinya, secara pribadi saya berharap semakin banyak yang peduli dengan melakukan aksi nyata terkait pengelolaan lingkungan, terutama pengelolaan sampah,’’ ungkap pegiat lingkungan yang telah menggeluti bidang ini sejak tahun 1994 tersebut.
Pendiri Wehasta ini menambahkan, pengelolaan lingkungan-khususnya sampah-harus dilakukan dengan saling merangkul berbagai pihak atau pemangku kepentingan. Mulai dari pemerintah, perusahaan, universitas, sekolah, hingga masyarakat. ’’Dengan bertambahnya pihak yang peduli dan konsen terhadap pengelolaan lingkungan dan sampah, maka secara tidak langsung akan meringankan persoalan sampah. Semua elemen bisa bergerak dan melakukan aksi nyata untuk mengurangi masalah sampah di tiap daerah,’’ pungkas Cak Toko. (dik/fen)
Editor : Fendy Hermansyah