Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Yang Terenggut di Laut

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 27 Desember 2025 | 12:35 WIB

Yulianto Adi Nugroho, wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto
Yulianto Adi Nugroho, wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto
Oleh: Yulianto Adi Nugroho*)

SEPANJANG paruh pertama 2025, tiga peristiwa kecelakaan laut menimpa rombongan wisatawan asal Mojokerto. Dari tenggelamnya 13 siswa SMPN di Pantai Drini, Yogyakarta, yang berujung empat di antaranya meninggal. Kemudian, tewasnya tiga santri saat berenang di Pantai Balekambang, Kabupaten Malang. Hingga tragedi Pantai Pancer Door, Kabupaten Pacitan, yang merenggut empat korban, meliputi keluarga pengasuh pondok pesantren.

Rentetan insiden kelam itu menyisakan duka yang amat mendalam. Kejadian di Pantai Drini dialami murid SMPN 7 Mojokerto. Wisata yang berlangsung pada 28 Januari itu mulanya digelar sebagai ajang pembelajaran di luar kelas atau outing class dalam istilah dunia pendidikan.

Konon, dari 257 peserta didik kelas VII dan VIII yang jadwalnya mengikuti sarapan di rumah makan sekitar pantai, ada 13 siswa yang ”terlepas” dari rombongan. Mereka tidak ikut makan, tapi langsung bermain di pantai.

Pada Selasa subuh yang dingin itu, belasan remaja tersebut hanyut. Belakangan tim SAR menyimpulkan para korban terbawa ombak saat berenang di area rip current alias arus kuat yang bergerak menjauh dari pantai. Area ini biasanya menjadi jalur nelayan pergi melaut dan menambatkan perahu. Saking bahayanya, BMKG menyebut perenang terkuat sekalipun bisa tersapu rip current.

Syukur, dalam peristiwa itu, sembilan anak terselamatkan setelah ditolong para pencari ikan. Namun, empat lainnya tak berhasil diraih. Mereka ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Kejadian di depan mata itu membuat ratusan siswa mengalami trauma. Rencana pelesir pun dibatalkan. Semuanya langsung dibawa balik ke Mojokerto menggunakan lima bus. Pada jam-jam genting ketika kabar itu tersiar, suasana di Mojokerto tak kalah gempar.

Para wali murid berduyun-duyun mendatangi sekolah untuk mencari tahu kabar anaknya. Kebingungan merebak. Perasaan cemas tak bisa ditolak. Satu demi satu tangis kekhawatiran pecah. Sebab, semua informasi belum terverifikasi. Nama-nama yang disebut jadi korban juga masih simpang siur.

Sampai pada akhirnya sesuatu yang paling ditakutkan muncul. Malvein Yusuf Ad Dhuqa, Alfian Aditya Pratama, Bayhaki Faqtyansah, dan Rifky Yoeda Pratama. Nama keempatnya tertulis di layar proyektor sebagai korban.

Tangis orang tua yang sedari tadi ditahan-tahan akhirnya meledak. Mereka tak percaya buah hatinya telah pergi untuk selama-lamanya. Pada siang itu, aula kantor Dinas Pendidikan Kota Mojokerto jadi tempat yang teramat memilukan.

Suasana kelam juga terasa di rumah duka keempatnya. Mereka dikenang para tetangganya sebagai pribadi yang baik dan riang. Seperti mendiang Rifky yang dikenal saleh karena gemar mengajak anak-anak kecil salat berjamaah ke masjid. Di lingkungannya di perumahan The Suam Residence, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, bocah 13 tahun itu juga aktif menjadi vokalis grup musik hadrah.

Kesan mulia semoga juga terkenang dari pribadi 3 santri Ponpes Amanatul Ummah, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, yang mengalami insiden tenggelam di Pantai Balekambang pada April lalu. Juga 4 orang sekeluarga pengasuh Ponpes Riyadlul Quran, Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, yang meninggal karena terseret arus Pantai Pancer Door dalam peristiwa Juni.

Kilas balik ini bukan untuk membuka luka bagi keluarga yang ditinggalkan. Melainkan sebagai bentuk pembelajaran agar peristiwa serupa sebisa mungkin tak terulang. Semoga mereka yang pergi mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Sebaliknya, mereka yang ditinggalkan oleh yang terenggut di laut bisa semakin kuat menjalani hidup. (*)

*) Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#wartawan #jawa pos radar mojokerto #catatan akhir tahun