Stereotipe perempuan lebih inferior dari laki-laki sedikit demi sedikit mulai tergerus seiring pintu lebar bagi perempuan dalam berkarier dan mengembangkan potensi dirinya. Termasuk dalam hal menyebarkan syiar agama dan mendidik anak, peran ibu-ibu cukup vital dalam memberikan edukasi yang positif. Inilah yang turut dimaksimalkan Rahmah Sofiana Wahdani Anom lewat PAC Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Mojosari.
Diamanahi sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Mojosari masa khidmat 2024-2029, Sofi sapaan karibnya, tak henti-hentinya mendampingi para ibu-ibu muslim dalam meningkatkan kapasitasnya.
Melalui kegiatan pengajian di yang tersebar di 18 ranting, Sofi kian menekankan peran Muslimat dalam menjaga nilai-nilai keagamaan. Terutama di lingkup keluarga dalam memperkuat karakter generasi muda. Tidak hanya lewat pengajian, bersama kader lainnya, ibu dua anak ini juga ikut mendorong perempuan agar terus mensyiarkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin atau membawa rahmat bagi alam dan seisinya.
Terutama di media digital yang hari ini mampu mengendalikan realita kehidupan masyarakat. Di mana, kader Muslimat juga harus bisa menyebarkan pandangan Islam yang moderat secara bijak di media sosial (medsos). ’’Kebetulan di Mojosari fokus PAC Muslimat adalah bagaimana syiar lewat di media sosial namun dengan cara yang santun dan bijak. Kami ajari bagaimana ibu-ibu membuat konten video yang dapat diterima semua kalangan,’’ ujarnya.
Meski demikian, wanita 48 tahun ini juga menekankan kepada kadernya untuk tetap sesuai kodratnya, yakni menjadi ibu rumah tangga. Terutama dalam hal mendidik anak karena ibu adalah madrasah ula bagi putra-putrinya. Bahkan, tak jarang Sofi juga memberikan kiat-kiat mendidik yang baik dan benar. Sehingga bisa ibu menjadi idola bagi anak-anaknya.
Terutama saat mendampingi mereka belajar, baik di rumah maupun di sekolah. Di mana, ia menekankan satu prinsip yang cukup relevan dengan kurikulum hari ini, yakni guruku adalah teman bermain dan belajarku. Prinsip ini bertujuan agar anak tidak tertekan saat belajar. ’’Kurikulum hari ini kan memakai pendekatan deep learning yang berfokus pada pengalaman belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan gembira (joyful). Sehingga guru harus bisa membuat siswa atau anak nyaman belajar,’’ imbuhnya.
Selain syiar dan pendidikan, Sofi juga turut memperjuangkan kader-kader Muslimat agar mendapat perlindungan hukum. Terutama ketika ada kader yang tersangkut masalah hukum agar bisa didampingi tim paralegal yang dibentuk di setiap PAC. Dengan tim paralegal ini, perempuan bisa mendapatkan kepastian hukum. ’’Kami juga membentuk tim paralegal yang bertujuan untuk memberikan perlindungan hukum,’’ pungkasnya. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi