Sebagai salah satu perempuan yang dipercaya duduk di DPRD Kota Mojokerto, dr Ditha Roosita Ayu Lestari, M.Biomed, selalu membawa keyakinan bahwa politik harus menjadi ruang yang lebih manusiawi, hangat, dan dekat dengan masyarakat. Spirit itulah yang memotivasi dirinya untuk terjun ke dunia politik.
”Saya ingin masyarakat merasa memiliki wakil yang benar-benar mendengar dan hadir untuk mereka,” ungkap Ditha. Dengan latar belakang sebagai kaum hawa dan tenaga profesional, Ditha mempercayai bahwa empati dan kepekaan menjadi kekuatan yang bisa memperkaya proses pengambilan kebijakan.
Terlebih, legislator dari Partai Golkar ini mengemban amanah di komisi I yang mengawal sektor pelayanan publik, kependudukan, pemerintahan, hingga tata kelola aparatur. Di bidang yang sangat erat dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari ini, Ditha menempatkan dirinya bukan hanya sebagai pengawas. Akan tetapi, dia juga berupaya sebagai jembatan guna memastikan pelayanan publik di Kota Mojokerto semakin cepat, transparan, dan mudah. ”Setiap kali masyarakat berurusan dengan layanan pemerintah, saya ingin mereka merasakan kenyamanan dan kepastian,” tuturnya.
Bagi Ditha, kedekatan dengan masyarakat itulah yang dijadikan sebagai fondasi dalam menjalankan tugas di legislatif. Sehingga dia selalu berusaha untuk membangun komunikasi yang hangat dan penuh kekeluargaan. ”Karena saya ingin warga melihat saya bukan hanya sebagai anggota dewan, tetapi sebagai teman atau saudara yang bisa mereka datangi tanpa sungkan,” imbuh anggota Fraksi Karya Indonesia Raya ini.
Pendekatan yang dibangun melalui hubungan kepercayaan dan kehangatan tersebut terbukti mampu menghapus sekat antara warga dengan wakilnya di DPRD. Dengan begitu, masyarakat jauh lebih terbuka dalam menyampaikan kebutuhan dan permasalahan mereka. ”Dari situ pula muncul aspirasi yang jujur dan relevan,” tandas Ditha.
Penguatan Pokir sebagai Penyalur Aspirasi
Salah satu fokus yang diperjuangkan oleh Ditha adalah penguatan pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD Kota Mojokerto. Mengingat, pokir merupakan instrumen penting penyalur aspirasi yang menjadi cerminan kebutuhan riil masyarakat. ”Bagi saya, pokir bukan sekadar dokumen tahunan, tetapi amanah yang lahir dari suara masyarakat,” tegasnya.
Karena itu, alumnus S2 Universitas Udayana ini selalu mencatat dan mendalami setiap aspirasi warga yang ia terima. Baik yang disampaikan saat kunjungan langsung ke masyarakat, pertemuan informal, maupun dalam forum dialog. Tak hanya di atas kertas, Ditha juga berkomitmen untuk mengawal agar setiap aspirasi masyarakat benar-benar terakomodir dalam perencanaan pembangunan.
”Saya ingin memastikan bahwa setiap pokir punya dampak nyata dan tepat sasaran,” ucapnya. Diakui Ditha, menjadi sosok perempuan di ruang politik memang memiliki tantangan tersendiri. Namun, ia justru menganggapnya sebagai kesempatan untuk menghadirkan perspektif baru.
Di balik sisi kewanitaan, ia berupaya untuk menunjukkan kelebihan kaum hawa yang dikenal detail, peduli, dan teliti. Nilai-nilai itulah yang dijadikan sebagai penambah kekuatannya dalam menjalankan tugas dan fungsi di legislatif. ”Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa berdiri tegak di ruang publik sambil tetap memegang karakter empatik dan solutif,” jelas anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Mojokerto ini.
Ke depan, Ditha berkomitmen untuk terus memperkuat pelayanan publik, memperjuangkan pokir yang tepat sasaran, serta membuka ruang komunikasi yang lebih luas. Dengan harapan, warga semakin berani untuk menyampaikan ide dan kebutuhannya. ”Saya percaya, Kota Mojokerto dapat tumbuh lebih maju jika dibangun melalui kolaborasi yang jujur dan saling menghargai,” tandasnya.
Melalui kerja bersama ini, Ditha berharap dapat terwujud Kota Mojokerto yang lebih ramah, inklusif, dan berorientasi pada pelayanan yang baik. ”Politik, bagi saya adalah tentang membangun rumah besar untuk saling mendengar. Dan saya akan terus menjaga pintu rumah itu tetap terbuka untuk seluruh warga,” pungkasnya. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi