Bisnis advertising dan event organizer (EO) seolah tak bisa dilepaskan dengan dunia hiburan atau entertainment. Khususnya musik yang telah menjadi kebutuhan masyarakat. Berangkat dari hobi musik inilah, Rosdianto sukses berbisnis jasa promosi dan konseptor event terbesar di Kota Onde-onde.
Terbukti, belasan reklame atau billboard miliknya berdiri kokoh di sudut-sudut kota. Tidak sekadar berdiri, beberapa baliho juga diisi promosi sejumlah produk skala nasional. Tak hanya reklame, pria yang akrab disapa Sogol ini juga tetap bertahan pada bisnis yang dirintisnya sejak tahun 2001. Yakni, studio musik Enter di Kelurahan Purwotengah, Kecamatan Kranggan.
Dari studio inilah, Sogol mengawali bisnisnya hingga menggurita. ’’Dulu memang hobi musik, yang lama kelamaan menjadi passion. Sehingga, segala hal yang berhubungan dengan hiburan musik juga ikut dipelajari, termasuk dunia advertising dan event organizer,’’ ungkapnya.
Meski berangkat dari hobi, namun pria 48 tahun ini tetap menjaga kepercayaan klien dengan menomorsatukan etika dan sikap profesionalitas. Di bawah bendera CV Enter Jaya, disiplin, responsif terhadap komplain, dan tidak mudah menyerah menjadi slogan utama. Menurutnya, usaha jasa seperti advertising harus mengedepankan kepuasan pelanggan. ’’Karena pelanggan harus dilayani. Dari merekalah usaha atau bisnis kita tetap bisa berjalan,’’ tambah bapak dua anak ini.
Tak hanya kepercayaan klien, Sogol juga berkomitmen untuk terus berinovasi dalam mewarnai dunia promosi dan event di Kota Onde-onde. Termasuk di era digital saat ini yang menuntut tampilan iklan dalam bentuk audio visual atau video. Untuk itu, Sogol berencana akan menyediakan videotron dan mobile LED yang bisa dimanfaatkan untuk media promosi efektif dalam menyampaikan pesan dan produk kepada masyarakat. ’’Pastinya inovasi itu tidak boleh berhenti. Karena hari ini adalah eranya adalah digital, maka media promosinya juga harus berbentuk digital,’’ tandasnya.
Pun demikian di bidang event organizer, selera konsumen juga menjadi acuan. Terutama hiburan musik yang saat ini didominasi aliran skena dan ambyar di kalangan kawula muda, khususnya generasi Z (Gen Z). Hanya saja, atmosfer musik di Kota Mojokerto dinilai Sogol terus menurun. Setidaknya dalam lima tahun terakhir ini minim pagelaran festival band.
Hal ini tak lepas dari terbatasnya ruang bagi kawula muda dalam mengekspresikan bakat bermusiknya. Tidak sekadar minim, dukungan dari pemerintah maupun stakeholder dalam mengembangkan kreasi anak muda juga kurang terlihat. Sehingga, tidak sekadar berdampak pada ekosistem bisnis hiburan, namun juga berimbas pada pergaulan anak muda yang lebih banyak menghabiskan waktu sia-sia dengan bermain game di warung kopi.
’’Kami ingin ada ruang publik yang bisa dimanfaatkan untuk menampilkan kreasi anak-anak muda. Dari situ, akan muncul bakat baru bagi anak-anak muda yang hobi musik. Dari pada main gadget di warkop berjam-jam dengan handphone (HP) miring,’’ pungkasnya. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi