TEKANAN ekonomi pasca Covid-19 telah memperlihatkan betapa rapuhnya struktur ekonomi nasional jika tidak ditopang oleh fondasi yang kuat di tingkat akar rumput. Desa juga mengalami penurunan aktivitas ekonomi, terbatasnya akses pasar, serta terganggunya rantai pasok lokal.
Namun di balik tantangan tersebut, muncul peluang besar yakni pemulihan ekonomi yang dimotori oleh kekuatan lokal. Antara lain melalui koperasi, UMKM, dan BUMDes. ’’Ketiganya merupakan lembaga ekonomi berbasis masyarakat dengan peran dan kontribusi khas namun saling melengkapi,’’ kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mojokerto Noerhono.
Ketiga unsur tersebut, merupakan wujud misi kemandirian Kabupaten Mojokerto di bawah kepemimpinan Bupati Muhammad Albarraa dan Wakil Bupati M. Rizal Octavian. Noerhono menyatakan, program kerja Disperindag berpedoman dalam misi tersebut. ’’Membangun kemandirian ekonomi pada semua tingkatan koperasi, usaha mikro dan BUMDes yang berbasis masyarakat guna mewujudkan keluarga yang sejahtera. Seluruh program kerja kami, mengacu pada misi poin ketiga Kabupaten Mojokerto,’’ ungkapnya.
Mantan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperka) Kabupaten Mojokerto ini menuturkan, bukan tanpa alasan Gus Bupati, sapaan akrab Bupati Muhammad Albarraa, untuk membangun kemandirian ekonomi di ketiga tingkatan tersebut. Sebab, pada 2024, angka pertumbuhan ekonomi kenaikan 5,29 persen dibandingkan saat pandemi Covid. ’’Pun demikian, dalam grafik Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lapangan Usaha Kab Mojokerto 2024, industri pengolahan membawa andil sebesar 57,93 dalam pertumbuhan ekonomi,’’ tuturnya.
Industri pengolahan, yang mana didalamnya mencakup Industri Kecil Menengah (IKM) diakuinya menjadi bagian dari penyumbang utama dari sektor industri pengolahan. Oleh karenanya, perlu upaya pemda untuk memperkuat dan mendukung IKM. ’’Saat ini, untuk total IKM di Kabupaten Mojokerto sudah ada 150 usaha yang terdaftar,’’ jelasnya.
Disusul, jumlah industri di bumi Majapahit, hingga 2025 ini mencapai 16.362. Itu meliputi industri kecil, menengah dan besar. ’’15 dari 18 kecamatan yang ada telah memiliki hasil atau sentra produk unggulan sesuai potensi wilayahnya,’’ papar dia.
Menurut Noerhono, dalam aspek kemandirian ekonomi, pihaknya berkomitmen mendukung terciptanya hubungan yang seimbang antara industri besar dan UMKM/IKM lokal. Adapun, upaya tersebut diwujudkan dalam jalinan kemitraan. ’’Bisa melalui pengoptimalan kemitraan dengan UMKM/IKM lokal dalam penyediaan bahan baku, kemasan, logistik, atau jasa lainnya,’’ paparnya.
Di samping itu, memberi ruang promosi produk UMKM melalui program CSR maupun event bersama. Kemudian, CSR dapat menjadi mitra dalam pengembangan ekonomi kreatif pangan berbasis potensi lokal Mojokerto. ’’Kami berharap, upaya kemitraan dengan CSR ini nantinya dapat mengarah ke sektor pengembangan usaha kecil menengah, pelatihan kewirausahaan, serta dukungan promosi produk IKM Mojokerto,’’ beber Noerhono.
Ia optimistis, sesuai misi dari Pemkab Mojokerto, hasil kolaborasi koperasi, UMKM, maupun BUMDes diyakini dapat meningkatkan pendapatan pertanian, menciptakan lapangan kerja baru di desa, dan mengurangi ketergantungan terhadap logistik dari luar wilayah. Model semacam ini, menunjukkan kekuatan ekonomi dapat dibangun secara mandiri dan berkelanjutan. ’’Karena pemulihan ekonomi daerah tidak akan tercapai tanpa kehadiran aktor ekonomi lokal yang kuat,’’ tandasnya.
Dengan dukungan kebijakan publik yang pro-rakyat, pendampingan berkelanjutan, serta pemanfaatan teknologi digital yang inklusif dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya kuat tetapi juga adil. (oce/fen)
Editor : Hendra Junaedi