Perjalanan studi Dr (Cand) Varary Mechwafanitiara Cantika, S.Pd, M.Pd, dalam menyelesaikan studi S2 hingga S3, tak seperti kebanyakan mahasiswa pada umumnya. Perempuan yang karib disapa Varary itu harus berhemat dan menjalani kehidupan dengan kondisi pas-pasan, demi mampu membayar UKT (uang kuliah tunggal) dan berpindah-pindah kos.
Kini, putri kedua pasangan Helmy Bastian dan Rina Kusweni tercatat sebagai CPNS Widyaiswara Ahli Pertama di Pusat Pengembangan Kompetensi SDM Legislatif, Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Perjalanan dalam menyelesaikan kuliah hingga menyandang predikat cumlaude juga tentu diraih dengan tidak mudah. Bahkan, dia harus membagi waktu dan tanggung jawab antara pekerjaan dan studi sekaligus. ’’Pencapaian hingga di tingkat ini tidak lepas dari dukungan keluarga dan berbagai pihak. Semoga gelar dan ilmu yang saya dapatkan menjadi berkah, dan bisa diterapkan untuk mengabdi pada masyarakat, khususnya di negara yang sangat saya cintai,’’ kata gadis kelahiran Mojokerto, 1999 ini.
Sebelumnya, Varary menyelesaikan pendidikan formalnya di SDN Mojosari, SMPN 1 Mojosari, dan SMAN 1 Mojosari. Dia lantas melanjutkan pendidikan sarjana (S1) di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) selama 3,5 tahun dan Magister (S2) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) selama 1,5 tahun dengan status cumlaude kedua. ’’Alhamdulillah, saat ini sedang menyelesaikan program doktor (S3) di UPI Bandung,’’ terangnya.
Varary juga membagikan kisah inspiratifnya dalam menggapai pendidikan tinggi meski di tengah menghadapi kesulitan finansial. Saat itu, selain menempuh studi S3 di Kota Kembang, Bandung, dia memutuskan memberi les privat, pekerjaan yang menurutnya halal dan tidak mengganggu aktivitas utama sebagai mahasiswa. ’’Saya selalu niat, kalau mencari ilmu itu lillahi taala, bukan semata-mata untuk mengejar pekerjaan bergengsi,’’ jelas dia.
Di samping mengatur waktu dengan baik, Varary menekankan, dirinya juga harus meluangkan waktu yang berkualitas untuk mengerjakan penelitian. ”Salah satu tipsnya adalah menyelesaikan semua pekerjaan di pagi hingga menjelang Magrib. Biasanya saya mulai mengerjakan penelitian saya hingga pukul 10 malam. Tidak perlu waktu yang panjang, yang penting berkualitas, meski hanya 30 menit,” tukasnya.
Baginya pendidikan adalah sarana meningkatkan kualitas diri demi kebermanfaatan bagi orang lain. Ketika menghadapi kekurangan biaya untuk melanjutkan pendidikan, Varary memutuskan melanjutkan studi berbekal kemampuan dan ilmunya untuk bekerja.
’’Bagi seorang perempuan, pendidikan sangat penting sebagai bekal dirinya dalam mendidik anak, mengurus rumah tangga, berkarir, dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya,” tambahnya. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi