Kunjungan ke rumah sakit dengan menyertakan anak-anak bisa menjadi pengalaman yang mengkhawatirkan. Suasana ruang tunggu penuh dengan pasien dewasa, dapat menimbulkan kecemasan tersendiri. Namun, konsep rumah sakit ramah anak justru diusung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof dr Soekandar Kabupaten Mojokerto sebagai solusi dalam menciptakan lingkungan yang nyaman dan bahagia bagi buah hati.
Plt Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan RSUD Prof dr Soekandar Kabupaten Mojokerto dr Anggono Ratma Arfianto Suprijo, Sp.A, menuturkan, anak-anak bukanlah miniatur orang dewasa. Sehingga mereka lebih membutuhkan pendekatan medis yang berbeda, terutama selama menjalani pemeriksaan kesehatan, perawatan, maupun pengobatan.
”Konsep rumah sakit ramah anak mengacu pada pendekatan pelayanan kesehatan yang memang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan fisik psikososial emosional anak-anak dan keluarganya, yang secara khusus dilakukan di lingkungan rumah sakit,” ungkapnya.
Dokter spesialis anak ini menyebutkan, terdapat beberapa elemen penting yang harus diperhatikan dalam menciptakan konsep rumah sakit ramah anak. Pertama adalah lingkungan fisik dalam rumah sakit. Menyangkut desain interior yang ceria, terang, fasilitas lengkap, dan nyaman. ”Tujuannya untuk mengurangi suasana menakutkan pada anak-anak saat dirawat,” papar staf KSM Anak RSUD Prof dr Soekandar Kabupaten Mojokerto ini.
Kedua, pelayanan medis sesuai usia dirasa penting dalam mendukung konsep tersebut. Sehingga rumah sakit pelat merah di Kecamatan Mojosari ini menyediakan petugas medis terlatih dan kompeten dalam hal perawatan anak. ”Pendekatan dengan teknik tertentu dan pengelolaan nyeri yang efektif serta ramah anak. Ini juga perlu disisipkan dalam penerapan konsep ramah anak selama memberikan pelayanan medis,” tandasnya.
Ketiga, memberikan keleluasaan bagi keluarga untuk mendampingi dan mengasuh anak saat dirawat, termasuk ketika menjalani tindakan medis. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah ini menyatakan, RSUD Prof dr Soekandar juga mengizinkan sang ibu atau ayah ketika sakit dirawat bersamaan dengan buah hati dalam satu kamar inap. ”Kita upayakan agar tetap dalam satu kamar, selama ada ketentuan-ketentuan yang berlaku. Seperti tidak ada penyakit menular dan sebagainya,” jelas Anggono.
Elemen penting yang keempat yakni menghormati hak anak sesuai perasaan dan kondisi pemahamannya. Petugas medis dituntut dapat menyampaikan kondisi kesehatan anak sesuai dengan bahasa yang mudah dipahami. ”Kita juga harus seperti guru TK. Berkomunikasi dengan gestur yang disukai anak-anak. Termasuk penampilan kita juga diperhatikan. Misalnya, jarang menggunakan baju serbaputih atau masker putih, sebaliknya kita pakai masker warna-warni atau dengan gambar agar mereka tidak takut,” imbuh pria yang tergabung dalam Tim Pakar Program Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Mojokerto ini.
Tak kalah pentingnya adalah elemen stimulasi dan pendidikan turut dihadirkan dalam konsep rumah sakit ramah anak. Hal itu sekaligus memastikan pasien anak yang mendapat perawatan dengan jangka panjang tetap mendapatkan pendidikan. ”Aktivitas rekreatif dan hiburan juga penting. Meskipun dalam kondisi sakit, mereka juga butuh hiburan, butuh bahagia,” paparnya.
Anggono menambahkan, perlindungan dan keamanan anak juga wajib dilakukan. Dengan demikian, enam elemen tersebut, lanjut dia, sejalan dengan prinsip konvensi hak anak yang dicanangkan PBB dalam hak anak di bidang kesehatan dan perlindungan dalam pelayanan medis. ”Konsep ramah anak di RS sangat penting, karena memberikan dampak langsung terhadap kesembuhan fisik dan mental kenyamanan emosional anak,” pungkasnya. oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi