Keberadaan Dewan Pariwisata Majapahit atau Majapahit Tourism Board (MTB) dinyatakan bakal menjadi titik awal pembangkit gairah pariwisata yang menggeliat di Mojokerto.
Di bawah naungan Keluarga Alumni Universitas Jember (KAUJE) Korda Mojokerto Raya, MTB berkomitmen dalam pengembangan sektor pariwisata di wilayah yang kental akan peninggalan Kerajaan Majapahit ini.
Solikin, anggota KAUJE sekaligus inisiator MTB menuturkan, MTB bakal menyuguhkan konsep perjalanan yang menekankan pada pengalaman dan cerita yang mendalam serta bermakna bagi para wisatawan.
Sebab, menurut dia, kunjungan wisatawan bukan sekadar mengunjungi tempat-tempat indah. Tetapi, juga tentang memahami sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang terkandung di balik destinasi yang dituju.
’’Setiap destinasi memiliki cerita unik tersendiri yang mampu memikat dan menginspirasi wisatawan. Kita bisa menggunakan ikon Majapahit, untuk menciptakan cerita menarik bagi wisatawan,’’ katanya.
Pria 55 tahun ini menyatakan, sejarah tentang Majapahit bisa menjadi hal yang menarik untuk diulas. Menurut dia, Mojokerto seharusnya bisa menghidupkan ikon ini menjadi sesuatu yang bernilai.
Apalagi, bagi orang awam, sejarah Majapahit hanya diketahui sekilas dari bangku sekolah. Tak ada yang benar-benar memahami ceritanya secara mendalam.
’’Oleh karenanya, MTB dalam peran menghidupkan wisata di Mojokerto, ini harus jadi bagian literasi penting. Karena ini (sejarah Majapahit) bukan konsumsi arkeolog, akademisi saja. Semua orang bisa mengaksesnya,’’ papar alumnus Jurusan Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Jember tersebut.
Bagaimana bisa menyampaikan sejarah Majapahit menjadi sesuatu yang dinikmati oleh wisatawan selama tur wisata? Solikin mengungkapkan, MTB bisa menelurkan ide-ide menarik untuk pengemasan tersebut.
Seperti menciptakan buah tangan berupa kitab-kitab peninggalan sejarah Majapahit agar bisa dibaca oleh wisatawan. ’’Itu salah satunya, dan masih ada cara-cara lain untuk menyampaikan hal tersebut dengan inovasi yang kreatif. Ini tentang bagaimana informasi itu bisa terdistribusi ke generasi berikutnya,’’ ungkap konsultan dan kreator destinasi wisata berpengalaman ini.
Cara pengemasan kreatif ini, lanjut Solikin, merupakan pengalaman yang bisa dijual kepada wisatawan. Dengan demikian, wisatawan dapat menciptakan pengalaman wisata yang tak terlupakan di Mojokerto. ’’Yang terlibat dalam MTB siapa?.
Semua komponen akan kita wadahi. Sehingga kita bisa petakan itu menjadi skala prioritas, kemudian dibentuk dalam road map pariwisata di Mojokerto,’’ imbuh pria yang sudah berkecimpung di dunia pariwisata selama 13 tahun tersebut.
Solikin menambahkan, Mojokerto Kota maupun Kabupaten harus memiliki satu ide dalam pengembangan wisata. Pikiran yang bisa menyatukan keinginan masyarakat melalui satu perkumpulan yang peduli terhadap Mojokerto Raya sebagai destinasi wisata.
’’Kepentingan MTB bukan politik kepentingan. Tapi, kepentingan yang berbasis pada bagaimana membangun kawasan wisata di Mojokerto Raya,’’ pungkasnya. (oce/ris)
Editor : Imron Arlado