Hasyim yang juga pegiat media sosial di Twitter (X), merasa ingin memberikan sesuatu yang berbeda jika terpilih menjadi anggota DPRD Kota Mojokerto.
Dia menyatakan, posisi sebagai anggota dewan di DPRD seharusnya sudah bisa melakukan banyak hal. Sayangnya, selama ini anggota dewan yang ada, justru suaranya terdengar sumbang.
Fenomena pemilihan anggota legislatif (Pileg) sekarang ini, menurutnya akan cocok menjadi ajang bagi orang-orang berduit dan tak punya idealisme untuk mencari pekerjaan.
’’Duduk di kursi DPRD harusnya memperjuangkan rakyat untuk mendapatkan pekerjaan. Bukan malah menjadi ajang bagi para caleg untuk cari pekerjaan,’’ katanya.
Pemilik Percetakan Fajar Offset ini, meyakini seorang caleg harusnya sudah selesai dengan dirinya sendiri. Sebab, mereka harus bisa memikirkan masyarakat yang dia wakili.
’’Selama para caleg mencalonkan dirinya karena tak punya pekerjaan, bukan karena ingin berjuang, maka peran DPRD akan seperti itu-itu saja. Apa yang bisa rakyat harapkan dari wakil rakyat yang belum selesai dengan dirinya sendiri?,’’ tuturnya.
Rekam jejak pemikirannya bisa diulik di akun X-nya, @hasyimmah. Di akun tersebut, Hasyim sudah mempunyai follower yang lumayan besar untuk ukuran warga Mojokerto.
Selain itu, dia juga dikenal secara luas sebagai muslim yang selalu menyuarakan toleransi umat beragama.
Di bidang kreativitas anak muda, Hasyim pernah menerbitkan Majalah Peace di tahun 2004 hingga 2012. Kala itu, Majalah Peace dibaca oleh pelajar setingkat SMP hingga SMA di wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto.
Kepedulian Hasyim terhadap lingkungan sekitarnya, bukan muncul jelang Pemilu saja. Rekam jejaknya di bidang sosial kemasyarakatan sudah cukup lama dijalani.
Salah satunya, keterlibatan Hasyim di Yayasan Fajar Shodiq, Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Mojokerto yang menyasar masyarakat di desa.
Kini, Hasyim ingin merambah ke dunia politik di Kota Mojokerto. Dia berharap warga Kota Mojokerto untuk peduli dengan haknya untuk memilih.
’’Jangan tidak memilih. Jangan tidak peduli. Jangan mau dibodohi dengan politik uang. Pilih sesuai hati nurani. Karena orang baik, pilih orang baik,’’ pungkasnya. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah