Dan prinsip tersebut yang terus dipegang pria 34 tahun ini dalam mewujudkan mimpi besarnya, yakni membangun perusahaan teknologi otomotif terkemuka di Indonesia.
MESKI saat ini ia baru memiliki dua bengkel motor, namun tidak menutup kemungkinan Burhanuddin akan berevolusi menjadi sosok owner sebuah perusahaan otomotif berbasis digital atau elektronik terbesar di Indonesia.
Sebab, bengkel yang ia dirikan sejak tahun 2018 di Desa/Kecamatan Sooko itu terus berinovasi dengan karya-karya cerdas yang tidak dimiliki oleh bengkel-bengkel lain. Bahkan, perusahaan elektronik dan otomotif sekalipun.
Salah satu karyanya yang paling mutakhir adalah H Diag Pro, sebuah perangkat elektronik dan digital yang dapat memetakan kerusakan dari mesin motor.
Didukung perangkat hardware dan software yang tersambung dengan bluetooth, H Diag Pro kian memudahkan mekanik dalam melakukan tuning mesin motor kapanpun dan dimanapun.
’’Bisa jadi H Diag Pro ini perangkat diangnosa pertama secara digital yang tidak dimiliki bengkel-bengkel resmi manapun,’’ tegas warga Desa Sumengko, Kecamatan Jatirejo ini.
Namun untuk bisa merancang dan memproduksinya secara massal, Burhan mengaku butuh perjuangan yang sangat panjang, yakni hingga tujuh tahun.
Bermula dari kejengkelannya yang kesulitan memetakan kerusakan motor karena tidak mendapat database motor injeksi secara penuh.
Kemudian ia bersama rekan sesama mekanik bertekad membuat piranti sendiri secara otododidak di tahun 2014.
’’Dulu saya jengkel karena database motor keluaran terbaru selalu mahal. Dan tidak ada alat dengan fitur lengkap yang bisa memetakan, mengedit dan menyimpan data sistem kontrol mesin motor. Saya belajar otodidak, dibantu juga kursus sekali dan seorang dosen dari ITS Surabaya sebagai pemandu,’’ imbuh lulusan SMK di Jombang ini.
Dan di tahun 2016, barulah ia mampu menghasilkan sebuah alat diagnostik khusus motor Honda yang dinamai H Diag. Disusul Y Diag untuk Yamaha, dan S Diag untuk Suzuki di tahun 2018.
Perangkat tersebut lantas ia produksi secara massal dan dijual ke pasar umum lewat website yang ia namai sesuai dengan tokonya, yakni Sooko.io. Tujuan produksinya hanya satu, yakni mempermudah mekanik dalam mengontrol mesin motor.
Terbukti, karyanya laku dan terjual ribuan hingga diburu mekanik luar negeri. Alhasil, cuan ratusan juta kini mengalir deras ke kantongnya.
’’Sudah seribu yang kami jual pada produksi pertama, sekarang akan produksi lagi yang kedua dengan jumlah seribu juga. Tersedia database semua tipe motor injeksi secara gratis,’’ tandasnya.
Bapak dua ini juga berharap, kedepan bisa lahir pemuda-pemuda kreatif yang turut andil dalam mengembangkan dunia mekatronika.
Artinya, otomotif di kalangan anak muda tidak sekadar diisi dengan balapan liar yang justru membahayakan nyawanya. Tapi juga diisi dengan karya elektronik yang membantu para mekanik dalam bekerja.
Apalagi, tantangan dunia otomotif kedepan semakin tinggi dengan munculnya motor listrik sebagai moda transportasi futuristik di masa depan.
’’Anak-anak muda saat ini sedikit yang menguasai programming. Mereka juga dominan kerja tim, sementara yang kerja mandiri jarang. Padahal, kedepan kita dituntut mampu menguasai bidang secara utuh, bukan parsial,’’ pungkasnya. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah